Mana Diplomasi Energinya?

Rabu, 17 Juli 2013

Koran SINDO - SUDAH sering kita mendengar pernyataan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Sayangnya, keterbatasan Indonesia dalam menyediakan suplai energi yang cukup dan berkesinambungan bagi warganya menunjukkan bahwa pujian tadi semata upaya meredam kegelisahan diri.

Sengaja saya angkat soal ketahanan energi karena setelah diperhatikan, faktor ini sangat penting dalam sejumlah asumsi pertumbuhan ekonomi yang kerap membuat kita ge-er(gede rasa). Perhatikanlah data berikut ini. Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen hingga 2025; bahkan Indonesia diyakini akan menjadi negara berkekuatan ekonomi 10 besar dunia.

Laporan Price Water House Cooper bertajuk World in 2050 mengatakan bahwa tujuh negara dunia akan mengambil alih peranan G-7 (kelompok negara maju yang selama ini selalu menentukan agenda politik ekonomi global) yakni China, India, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, dan Afrika Selatan.

Negara seperti Nigeria, Turki, Rusia, Meksiko pun diprediksi akan menjadi lebih kaya dibandingkan Jerman atau Inggris. Laporan ini mendasarkan prediksinya pada kemampuan negara-negara ini dalam menjaga dan meningkatkan tingkat pertumbuhan PDB dengan ditopang oleh pertumbuhan jumlah populasi usia kerja, peningkatan modal manusia berpendidikan (human capital), pertumbuhan stok modal fisik, dan pertumbuhan total faktor produktivitas yang ditopang kemajuan teknologi.

Cermatilah dasar laporan di atas. Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat ditentukan tiga hal utama yakni keterampilan dan keahlian tenaga kerjanya, pertumbuhan modal fisik (seperti ragam infrastruktur), serta total produktivitas yang tidak terlepas dari peranan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apakah tiga hal tersebut cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi?

Tentu tidak cukup karena implisit dalam pengembangan tiga hal tersebut adalah kecukupan pasokan energi. Bisakah Anda bayangkan gedung pencakar langit, sekolah, pusat penelitian tanpa pasokan listrik yang memadai? Bisakah Anda bayangkan bisnis dan sektor usaha tumbuh di wilayah tanpa pasokan listrik yang konsisten?

Kita bisa bayangkan agrobisnis di daerah-daerah terpencil pun pasti gagal jika kekurangan listrik karena artinya proses pembuatan es untuk pendingin dan pabrik-pabrik pengolahan akan gagal operasi dan akibatnya komoditas pertanian akan turun kualitas atau sia-sia.

Untuk menjadi negara yang perekonomiannya tumbuh pesat, semua tenaga kerjamuda diasumsikan memberi kontribusi pada perekonomian dengan segala keahlian, kreativitas, penguasaan pengetahuan dan teknologi, serta tentu ditopang oleh kecukupan energi. Negara tanpa kecukupan energi dijamin akan langsung merosot kinerja ekonominya. Biasanya ricuh pula politik domestiknya.

Contohnya Liberia yang dulu dikenal sebagai salah satu negara Sub-Sahara terkaya. Sejak 1992 negara itu lebih sering mati lampu karena perang saudara menghancurkan pembangkit listrik tenaga air dan sampai sekarang tidak diperbaiki. Irak yang dulunya disegani di Timur Tengah karena kaya minyak bumi kini tak ubahnya negara pesakitan sejak Amerika Serikat (AS) menghancurkan pusat-pusat eksplorasi minyak di sana.

Jangankan bicara berbisnis yang wajar, dengan suhu udara yang sangat panas di Irak, siapa yang tahan duduk lama bekerja di pabrik, perusahaan atau bahkan bersekolah? Meskipun ada bantuan dari Turki, sampai sekarang kemampuan Irak memasok energi tetap jauh di bawah kapasitas sebelum perang.

Tesis Lina Nursanty, mahasiswa di program studi saya, menyimpulkan Indonesia belum punya ketahanan energi yang memadai untuk kebutuhan hingga 2025 meskipun identifikasi masalah ini sebenarnya sudah ada sejak 2003. Dari segi suplai minyak bumi, Indonesia sudah defisit sejak 2004 dan penyebabnya kurangnya investasi dan kegiatan eksplorasi minyak bumi.

Indonesia malah mengekspor gas bumi dan batu bara ke negara lain, padahal kebutuhan pasokan untuk industri dan pembangkit listrik di dalam negeri saja tidak terpenuhi. Jenis batu bara yang diproduksi di Indonesia bahkan jenis yang relatif ramah lingkungan karena nilai kalori dan daya bakarnya yang tinggi dengan kadar arang sulfur rendah. Selain itu, tidak ada inovasi baru dalam hal teknologi pembangkit tenaga listrik berbasis bahan bakar nonfosil.

Pengembangan pengetahuan di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir dan tenaga arus laut masih terbelakang. Pemerintah juga masih kurang perhatian pada perluasan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya, tenaga biomass, ataupun biodiesel. Jadi jangankan bicara tentang kebijakan luar negeri terkait penguatan ketahanan energi. Istilah diplomasi energi pun masih asing di telinga kita, padahal bagi negara-negara lain, diplomasi energi adalah kata kunci dalam kebijakan luar negerinya.

Contohnya China. Negeri ini punya visi memenangkan kompetisiperebutansumberenergi. Sebesar 69 persen pembangkit listrik di China memang masih berbasis fosil. China berupaya membangun jalur kereta api sepanjang Indo-China, bahkan jalur lintas Sumatera, agar lancar pasokan batu bara dari Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Mereka mendorong pembangunan jalur listrik tegangan tinggi di Indo- China dan sepanjang semenanjung Malaya (sampai ke Indonesia).

China juga menyiapkan skema ekspor listrik dari Yunnan dan Guangxi ke Asia Tenggara, membangun pipa gas dari Irkutsk di Asia Tengah, mengeksplorasi ladang gas alam di Siberia Timur, dan memperbesar investasi serta pinjaman bagi negaranegara Afrika agar punya akses ke ladang-ladang minyak di benua tersebut. Tapi, China pun dikenal agresif mengembangkan pembangkit listrik tenaga air, tenaga angin, tenaga nuklir, bahkan biodiesel.

Strategi serupa dikembangkan juga oleh India, Vietnam, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, bahkan AS. Mereka aktif mencari sumber minyak dan gas bumi sambil mempelajari dan membangun sentra pembangkit energi alternatif. Indonesia tak akan punya waktu lagi untuk berdiam diri. Prediksi 2050 dari PWC di atas menyiratkan bahwa peluang Indonesia untuk tumbuh hanya sampai 2050.

Lewat dari itu, lewatlah juga peluang untuk tinggal landas sebagai negara maju. Perihal perhatian pada pembangunan sumber energi alternatif ini bukan main-main. Bahayanya sudah di depan mata. Misalnya saja Apple baru-baru ini diminta menjelaskan asal usul timah yang dipakai untuk produknya yang dicurigai berasal dari Indonesia.

Jika benar sumber timahnya dari Indonesia, komponen Apple akan diklaim tidak ramah lingkungan sehingga entah Appleakan menekan perusahaan tambang di Indonesia untuk patuh aturan ramah lingkungan atau malah bisa dijadikan alasan untuk putus kontrak sama sekali dengan Indonesia. Kita tahu persis kampanye serupa masih menjadi momok bagi sektor kelapa sawit dan pulp kertas di Indonesia.

Sektor garmen dan apparel bahkan gugur dalam kompetisi global karena terbukti mencemari sumber-sumber air dengan bahan-bahan berbahaya dan mempekerjakan tenaga kerja dengan standar perburuhan yang buruk. Jadi, ayolah bergerak memberi perhatian pada diplomasi energi dan penguatan kebijakan di bidang energi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s