1.500 Hektare Sawah Tergerus Sawit

Rabu, 28 Mei 2014

SAMARINDA POS. SANGATTA. Komoditas sawit yang saat ini mendominasi usaha perkembuann baik perusahaan maupun perorangan di Kutim, kini justru berdampak negatif bagi pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak lahan persawahan yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan. Maklum banyak masyarakat yang melepas sawah mereka ke perkebnunan ataupun dialihkan sendiri masyarakat untuk kebun sawit.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutim Syarifuddin Ginting belum lama ini. Dari data yang dimiliki, setidaknnya sudah ada 1.500 hektare lahan sawah beralih fungsi menjadi kebun sawit. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang mau melepaskan lahan mereka untuk dibeli perusahan, karena masuk lokasi HGU perkebunan mereka. Sedangkan masyarakat jika ditawari uang, pasti mau melepaskan lahannya untuk menjadi perkebunan. Kini tidak sedikit sawah beralih fungsi karena masyarakat memilih menanam sawit daripada padi. Sebab padi rentan dengan risiko seperti gagal panen karena hama atau cuaca. Kerjanya juga intensif, membutuhkan tenaga banyak. Beda dengan sawit yang hanya membutuhkan pemeliharaan beberapa tahun, selanjutnya akan produksi tanpa membutuhkan tenaga yang banyak. Apalagi tidak banyak risiko seperti hama atau cuaca, sementara hasilnya jelas. Untuk menghindari agar lahan sawah tidak terus tergerus kebun, Distanak akan mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang alih fungsi lahan pertanian ke perkebunan. Karena jika tidak dilindungi dengan Perda sejak awal, maka perlahan alih fungsi ini akan terus berlanjut, sehingga mengancam keberadaan sawah. “Kalau ini terus berlanjut, maka akan mengganggu program swasembada beras tahun 2015. Karena itu harus diatur agar lahan sawah tidak gampang dialihfungsikan ke perkebunan. Sehingga program swasembada beras  berjalan dengan aman,” harapnya.
Disebutkan, beberapa lokasi yang merupakan lokasi potensial yang telah beralih fungsi adalah lokasi di Kecamatan Longmesangat. Dari luas sawah 1.500 hektare,  kini tersisa 800 hektare. Kemudian di Kombeng dari 1.500 hektare, kini tersisa 500 hektare. “Dua daerah ini yang paling banyak beralih fungsi. Sedangkan kecamatan lainnya, ada yang berubah 100 sampai 200 hektare menjadi kebun,” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s