Pemerintahan Baru Harus Pikirkan Strategi Kurangi Subsidi BBM

Minggu, 08 Juni 2014

BERITA SATU. Jakarta – Pemerintah baru yang akan terbentuk nanti harus mulai memikirkan bahan bakar alternatif. Pasalnya, pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang ada saat ini telah menyebabkan subsidi terus membengkak setiap tahunnya.

Apalagi, harga BBM di Indonesia, masih sangat jauh dibandingkan dengan harga keekonomisan BBM dunia yang berada di level Rp 16.000. Karena itu, Indonesia memerlukan presiden yang berani bersikap untuk memutus mata rantai ketergantungan ini.

Hal itu dikatakan anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran, di Jakarta, Minggu (8/6).

Ia menghimbau agar presiden terpilih nanti bisa mengendalikan subsidi BBM. Tumiran tidak menutup mata mengenai pertambahan penduduk Indonesia sebagai penyebab naiknya permintaan energi nasional dan melemahnya kurs rupiah. Namun dia menyayangkan sikap pemerintah sekarang yang terlalu banyak berwacana.

Jika tidak bertindak cepat, Tumiran memprediksi anggaran untuk subsidi BBM bisa menembus angka Rp 300 triliun bahkan lebih pada akhir tahun nanti atau hampir menyentuh 25% dari anggaran APBN.

“Pemerintah sekarang sangat lambat mengkonversikan BBM ke gas untuk transportasi di Indonesia,” ujarnya.

Terkait masalah energi terbaharukan, Tumiran mengaku sangat mendukung. Bahkan, sejak tahun lalu, dia mengusulkan pada pemerintah soal Bahan Bakar Nabati sebagai energi alternatif. Komoditas sawit yang melimpah di Indonesia bisa dijadikan solusi yang tepat dan mengurangi ketergantungan impor BBM Indonesia.

Kontribusi Bahan Bakar Nabati (BBN) yang dicanangkan sebesar 10% tahun ini menurut Tumiran patut dipertanyakan juga, pasalnya angka subsidi BBM tidak menunjukkan penurunan.

“Implementasi biodiesel 10% sudah betul apa belum itu? Kalau betul berarti subsidinya tidak perlu naik,” katanya.

Tumiran menghimbau pemerintah baru sebaiknya memberi besaran subsidi BBM yang baku. Jika tidak, maka kejadian membengkaknya nilai subsidi akan terus berulang. Ini merupakan tantangan berat bagi pemerintah terpilih nanti.

“Diplot saja Rp 250 triliun, harga BBM atau listrik bisa naik turun tapi subsidi tetap,” tegas Tumiran.

Isu ketahanan energi ini menjadi permasalahan yang rentan untuk dibahas oleh para calon presiden. Namun, yang penting bahwa pengurangan subsidi BBM ini harus diimbangi juga dengan perluasan lapangan kerja.

Langkah serupa diusulkan oleh Kresnayana Yahya, pemberhati masalah ekonomi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
“Seharusnya ada insetif sebesar 10% untuk energi terbarukan,” ujarnya.

Dia mencontohkan adanya campuran biodiesel terhadap BBM fosil yang dilakukan secara bertahap. Saat ini baru 10% dan akan meningkat 15% pada 2016. Proses ini memang terlalu lama.

“Harusnya saat 2016 nanti, sudah mencapai 40% mengingat pasokan bahan bakar nabatinya sangat melimpah,” ujarnya.

Kemudian Kresna menunjuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang begitu luas. Salah satu bentuk insentifnya berupa pembebasan pembayaran PBB selama dua tahun, asalkan pengusaha kelapa sawit bersedia menyetor 30% dari hasil produksinya kepada pemerintah untuk dipakai sebagai bahan bakar nabati (biodiesel).

“Jika ini diterapkan secara sungguh-sungguh, saya yakin harga keekonomisan BBM bisa tercapai lebih cepat tanpa aksi protes berlebihan dari masyarakat,” ujarnya.

Meski demikian, di mata Kodrat Wibowo, pengamat ekonomi asal Universitas Padjajaran, belum melihat adanya keseriusan pemerintah, termasuk konversi ke biodiesel. Meski sempat diperintahkan presiden melalui sebuah Kepres pada 2010 lalu, namun perintah itu tidak disertai dengan langkah-langkah konkrit untuk mendukung biodiesel tersebut.

“Tidak ada kebijakan pemerintah terkait penanaman pohon jarak secara besar-besaran. Tidak ada juga upaya pemerintah menyiapkan infrastrukturnya berupa pabrik dan lainnya,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s