Lahan Gambut Ditemukan di Hutan Mangrove Gorontalo

MONGABAY. Selama ini, Gorontalo, Sulawesi, belum terpantau memiliki lahan gambut. Namun, temuan terbaru memperlihatkan ada gambut di atas tegakan hutan mangrove di daerah ini.

Lahan gambut itu berada di kawasan hutan mangrove Cagar Alam Tanjung Panjang, di Pohuwato, masuk Teluk Tomini. Ia ditemukan tim peneliti Wetland International Indonesia Program, Iwan Tri Yoyok Wibisono ketika meninjau lapangan dalam program mangrove untuk masa depan.

Yoyok mengatakan, lahan gambut di hutan mangrove Indonesia baru dua tempat, Kabupaten Mamuju dan Gorontalo. “Kami berhasil mengambil titik koordinat dan mengukur ketebalan gambut secara sederhana. Dari observasi ini, kami menduga gambut berada di dua sungai dengan kedalaman bagian tengah lebih satu meter,” katanya kepada Mongabay, Sabtu (14/6/14).

Namun, ini masih menjadi analisis awal karena hanya berdasarkan pengukuran terbatas dan observasi singkat. Untuk mengetahui sebaran dan luas gambut di Tanjung Panjang, perlu kajian khusus. Pengukuran ketebalan gambut harus di banyak titik dengan transek didesain purposif untuk areal itu.

“Perlu kami sampaikan, gambut di Tanjung Panjang telah mengalami pengurasan air oleh masyarakat dengan pembuatan kanal-kanal.”

Dengan kanal ini, air turun hingga lapisan gambut, terutama bagian atas, akan kering. Kondisi inilah yang menyebabkan lahan gambut rawan terbakar. “Kalaupun tidak terbakar, lapisan gambut atas akan mengalami oksidasi atau melepaskan emisi gas rumah kaca. Karena bahan organik terekspos langsung oleh oksigen.”

Dari kunjungan lapangan, katanya, mereka melihat aktivitas penebangan liar masih di areal berhutan. Hal ini menjadi kendala dan tantangan tersendiri yang perlu dihadapi. Mengingat mangrove tumbuh di lahan gambut sangat jarang dijumpai, maka ekosistem di Tanjung Panjang tergolong sangat unik. “Sangat penting dilindungi dan direstorasi.”

Rahman Dako, project coordinator Mangrove For the Future Gorontalo mengatakan, lahan gambut ditemukan di Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Pohuwato. Dia menduga sebaran lahan gambut ada di daerah lain dalam cagar alam itu.

“Sayangnya, lahan gambut sudah menjadi tambak, air laut terkurung karena dibuat kanal oleh masyarakat. Pohon-pohon mangrove mati. Kami akan membuat riset lebih dalam lagi.”

Hamparan gambut di Cagar Alam Tanjung Panjang, Gorontalo. Foto: Rahman Dako

Polemik Cagar Alam Tanjung Panjang

Cagar alam ini salah satu dari enam kawasan konservasi di Gorontalo. Ia ekosistem mangrove sangat penting. Namun, mengalami degradasi dan deforestasi sangat parah dampak perambahan kawasan skala besar.

Kawasan ini berubah menjadi tambak bandeng dan udang. Beberapa desa masuk dalam cagar alam. Salah satu, Desa Siduwonge, Kecamatan Randangan, Pohuwato.

Usman Achir, kepala Desa Siduwonge, mengatakan, awal mula tambak masuk kawasan pada 1993. Dia saksi mata. Ketika itu Usman ikut survei awal ke lokasi cagar alam oleh lima instansi pada pemerintahan Sulawesi Utara.

Pemerintah daerah kewalahan. Bahkan potensi konflik antaretnis mengancam karena banyak warga asal Bugis mengelola tambak. Sedang masyarakat asli Gorontalo hanya sebagai peladang dengan hasil sedikit.

”Masalah di cagar alam sudah lama, sejak 1980-an. Kami dihadapkan psiko-sosial masyarakat. Sewaktu-waktu konflik horizontal bisa terjadi antara pendatang dengan penduduk lokal,” kata Syarif Mbuinga, Bupati Pohuwato.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kesulitan memulihkan ekosistem. Setelah menjadi kawasan konservasi berdasarkan surat keputusan 1984, penataan batas pada 1992 dengan panjang 35,53 kilometer. Pal batas 271 buah, dimulai titik nol bagian utara, dan titik 270 bagian selatan. Proses ini melahirkan surat keputusan penetapan cagar alam. Kini, batas kawasan hilang.

Padahal, di cagar alam itu didominasi ekosistem mangrove dan hutan pantai ini. Di Tanjung Panjang, banyak dijumpai berbagai jenis mangrove, seperti Brugueira Sp, Rhizopora Sp, Avicennia Sp, serta Nipah atau Nypa Sp. Untuk fauna, bisa ditemui elang laut, Kuntul Egretta Sp, moluska, serangga hingga berbagai ikan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s