Maksimalkan Lahan Pasif

Jumat, 04 Juli 2014

KALTIM POST. SAMARINDA – Menanggulangi nilai tukar petani (NTP) di Kaltim yang tak kunjung membaik, pemerintah menyatakan telah mencanangkan sejumlah program. Pengembangan lahan pasif untuk meningkatkan produktivitas menjadi fokus utama dalam mengembalikan kesejahteraan petani.
Sekadar informasi, Juni lalu, NTP Kaltim masih tertahan pada angka 99,77 persen atau di bawah taraf impas (100 persen). Pemicu utama adalah subsektor tanaman pangan dan hortikultura yang nilainya masing-masing masih berada pada posisi 97,44 dan 96,38 persen. Itu menunjukkan bahwa pemasukan petani dari hasil produksi tak menutupi biaya bulanan mereka.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Dispertan) Kaltim, melalui Kepala Subbidang Perencanaan dan Program Sisworo menyebutkan, pihaknya tengah menjalankan empat program utama untuk mengembalikan kesejahteraan petani. Meski tak menyebutkan waktunya, dia berharap, NTP di kedua subsektor itu dapat membaik hingga di atas angka 100 persen.
“Selain terus berupaya meningkatkan nilai produk dari sisi petani, perluasan dan optimalisasi lahan juga masih kami perjuangkan,” ucapnya, belum lama ini. Upaya lainnya, kata dia, adalah pembasmian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang selama ini cukup menguras pengeluaran para petani.
Dia menambahkan, saat ini, Dispertan juga sedang membangun kawasan agrobisnis yang bisa dikembangkan para petani. Caranya, dengan memaksimalkan potensi lahan agar para petani dapat menanam lebih dari satu jenis tanaman. Dia menyebut, kebanyakan petani di Kaltim adalah hanya mengembangkan tanaman tunggal di lahan mereka.
“Petani padi, misalnya. Mereka juga akan didorong mengembangkan lahan, baik di pematang sawah ataupun pekarangan rumah untuk menanam sayuran hingga tanaman bumbu, seperti cabai. Jadi, tidak perlu membeli, sehingga inflasi di perdesaan juga bisa diredam,” urainya.
Dispertan, lanjut Sisworo juga tengah mendalami pengembangan lahan eks tambang untuk dikembalikan produktivitasnya. Saat ini, percobaan tengah dilakukan di Desa Embalut, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Dia menyatakan bahwa komoditas pangan merupakan prioritas utama saat ini.
“Luasnya 10 hektare (ha) dan trennya cukup bagus. Terbukti, dapat menghasilkan padi, jagung, kedelai, dan singkong. Namun masih perlu peningkatan dengan menggunakan bibit tanaman unggul. Kami juga akan mengintegerasikan lahan tersebut untuk pengembangan ternak, yang juga bermanfaat untuk menambah kualitas tanah,” paparnya.

Terakhir, Sisworo menjelaskan, mekanisasi pertanian juga akan terus mereka kembangkan untuk membantu meningkatkan produktivitas petani. “Sentuhan teknologi diharapkan dapat mendorong generasi muda terlibat dalam sektor pertanian. Kita harus mampu swasembada, tak boleh terus bergantung dengan luar daerah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s