Pengusaha Sawit Incar Lahan Gambut

Kamis, 10 Juli 2014

KALTIM POST. JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meminta Pemerintah mencabut moratorium pemanfaatan lahan gambut di kawasan hutan. Dengan begitu lahan gambut bisa dimanfaatkan untuk memperluas lahan kelapa sawit dan meningkatkan produksi crude palm oil (CPO).
Sekjen Gapki, Joko Supriyono mengatakan, lahan gambut yang ditanami kelapa sawit mereduksi hampir setengah emisi dibandingkan dengan gambut tropis atau sawah gambut, yaitu di kisaran 31,40-57,06 karbon dioksida per hektare per tahun.

“Sampai saat ini perkebunan kelapa sawit di lahan gambut perawan hanya sekitar tiga persen, masih sangat kecil,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya kemarin (9/7).

Regulasi yang tertuang dalam Instruksi Presiden No 6/2013 itu memperpanjang moratorium dari peraturan sebelumnya hingga 2015. Pihaknya menilai keputusan itu bukan solusi yang tepat karena lahan gambut yang tidak dibudidayakan dengan baik justru akan menyumbang emisi lebih besar.

“Kalau lahan gambut rusak, justru emisi karbonnya akan lebih tinggi,” sebutnya.

Instruksi Presiden yang ditandatangani pada 13 Mei 2013 itu melarang penggunaan hutan alam primer dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Penundaan pemberian izin baru juga berlaku di area penggunaan lain sebagaimana tercantum dalam Peta Indikatif Penundaan Izin Baru. “Kalau ada yang bilang tanaman sawit merusak lahan gambut itu perang dagang aja,” katanya.
Pasalnya, di negara sentra kelapa sawit lain, seperti Malaysia, perkebunan kelapa sawit bahkan ditanam di lahan gambut dengan kedalaman delapan meter. Namun begitu harus diakui biaya investasi kelapa sawit di lahan gambut memang sedikit lebih mahal dibanding dengan hamparan lain.

“Tapi selama estimasi investasi tepat dan menguntungkan bisa saja investor sawit tertarik,” tuturnya.

Joko menerangkan tanaman sawit bisa tumbuh subur di Indonesia. Oleh karena itu minyak nabati di Eropa dan Amerika Serikat hanya mengandalkan tanaman seperti kedelai dan lainnya. Sudah terbukti kelapa sawit merupakan tanaman dengan produktivitas paling tinggi untuk mengisi permintaan dunia.

“Kebutuhan dunia 5-6 juta ton CPO, itu hanya butuh sejuta hektare kebun sawit, kalau kedelai butuh 10 juta hektare,” sebutnya.

Oleh karena itu, Joko menilai wajar apabila negara-negara Eropa serta Amerika Serikat terus melakukan kampanye hitam terhadap sawit Indonesia.

Padahal menurut data Gapki, negara yang paling banyak melakukan deforestasi (penggundulan hutan) dan alih guna lahan gambut adalah Tiongkok dan Rusia. “Jadi bukan Indonesia, karena Tiongkok dan Rusia lebih banyak deforestasi,” jelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s