Industri Mebel Masih Kekurangan Bahan Baku

16 Juli 2014

Metrotvnews.com, Jakarta: Ironis. Kata tersebut agaknya tepat menggambarkan kondisi yang terjadi pada industri mebel dan kerajinan Tanah Air. Indonesia sebagai penyandang gelar pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia nyatanya tidak otomatis berlimpah bahan baku.

“Indonesia ini negara ketiga hutan tropis terbesar di dunia setelah Brasil dan Zaire. Secara demografis seharusnya kita tidak kekurangan bahan baku, tapi kita amat sulit mendapatkan bahan baku,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur melalui sambungan telepon, Rabu (16/7/2014).

Penyebabnya, dia menjelaskan, marak terjadi pembalakan liar dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Selain itu berkurangnya hak pengelolaan hutan (HPH) aktif sehingga ketersediaan kayu keras sebagai bahan baku semakin berkurang.

“Persediaan yang melimpah lambat laun semakin habis. Sebab, penggundulan yang terjadi 10 kali lapangan bola. Ini akan menimbulkan masalah,” katanya.

Alhasil, pelaku usaha harus mengimpor kayu, antara lain dari Amerika Serikat, Eropa, dan Selandia Baru. Perkiraan perhitungan, anggota AMKRI yang sebanyak 600 perusahaan membutuhkan lebih dari lima juta meter kubik kayu gergajian per tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 30%-nya mesti diimpor.

Selain kurangnya bahan baku, alasan impor karena didorong harga yang lebih murah, semisal kayu jati. Menurut Abdul, harga kayu lokal bervariasi dari Rp15 juta sampai Rp30 juta per kubik. Namun harga kayu keras seperti jati dari Amerika Serikat hanya berkisar Rp4 juta-Rp5 juta per kubik. Harga tersebut sudah termasuk pengiriman sampai ke pabrik.

“Kita memang ada masalah, logistik mahal dan tidak ada standardisasi harga. Kedua, memang ada upaya penanaman dari pemerintah, tapi yang ditanam justru yang tidak dibutuhkan industri mebel seperti eukaliptus atau akasia mangium. Itu untuk pulp, tidak untuk kayu keras,” tuturnya.

Pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Cahaya Sakti Furintraco (Olympic) Au Bintoro mengatakan, perusahaannya masih mengimpor kayu partikel board dari Malaysia dan negara lainnya. Setiap bulannya jumlah yang diimpor sekitar 15 ribu kubik.

Sebenarnya, dia melanjutkan, ada pelaku industri dalam negeri yang mengolah bahan baku serbuk gergaji dan ranting menjadi partikel board. Namun, industri pengolahannya belum besar sehingga hasil produksinya tidak memcukupi permintaan.

“Partikel board bahan bakunya ada tapi hasil olahannya enggak mencukupi untuk lokal,” ucapnya.

Padahal, Au mengungkapkan, bahan baku tersebut dibutuhkan untuk membuat lemari, kitchen set, ataupun meja belajar. Saat ini pangsa pasar Olympic sendiri 80%-nya untuk memenuhi kebutuhan lokal sedangkan sisanya ekspor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s