Kerusakan hutan mangrove Langkat sangat mengkhawatirkan

Minggu, 20 Juli 2014

Langkat, Sumut (ANTARA News) – Kerusakan hutan mangrove (bakau) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sudah sangat mengkhawatirkan, baik dijadikan perkebunan kelapa sawit maupun dijadikan kayu arang.

Kerusakan hutan mangrove sudah sangat mengkhawatirkan, perlu tindakan nyata di lapangan, kata Wakil Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Lantera Institute Kabupaten Langkat, Selamat, di Stabat, Minggu.

“Kerusakan hutan mangrove ini tidak main-main, diperkirakan mencapai 20.000 hektare,” ucapnya.

Itu terjadi mulai dari kecamatan Secanggang, Tanjungpura, Gebang, Babalan, Sei Lepan, Brandan Barat, Besitang, Pangkalan Susu, maupun Pematang Jaya.

Pihaknya mensinyalir banyaknya garapan lahan hutan mangrove yang tidak sah, atau dengan menggunakan jabatannya untuk merusak kawasan ekosistim mangrove, menjadi perkebunan kelapa sawit.

Selamat menegaskan akibat kerusakan hutan mangrove tersebut, sudah sangat meresahkan bagi nelayan tradisionil, sehingga mata pencarian mereka dari menangkap ikan, dari waktu ke waktu terus semakin berkurang.

“Jelas ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada tindakan nyata dari Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Langkat,” tegasnya.

Dirinya meminta agar Pemerintah Langkat, melalui instansi Kehutanan dan Perkebunan, harus segera mengembalikan hutan mangrove yan dirusak itu kepada fungsinya semula, bila ingin menyelamatkan ribuan nasib nelayan Langkat.

Secara terpisah Ketua Penegak Amanat Rakyat Sumatera Utara Surkani mengungkapkan bahwa kerusakan hutan mangrove di Langkat, sudah sangat menghawatirkan bila tidak ada tindakan nyata dari aparat terkait.

Pihaknya memperkirakan kerusakan hutan mangrove sekarang ini semakin bertambah, bila dibandingkan dengan kerusakan yang ada karena alih fungsi yang dilakukan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Di mana sebelumnya saja berdasarkan peta penunjukkan kawasan hutan provinsi Sumatera Utara, Kepmenhut nomor 44/Menhut-II/2006 dan interprestasi Lansat Tahun 2006, total kerusakan hutan mengrove di Langkat mencapai 16.466 hektare.

Seperti di Secanggang dari luas 6.830 hektare, yang rusak 730 hektare, Tanjungpura dari luas 7.650 hektare yang rusak 4.150 hektare.

Kemudian kecamatan Gebang dari luas 2.409 hektare yang rusak 2.199 hektare, kecamatan Babalan dari luas 2.650 hektare, yang rusak 2.530 hektare.

Selanjutnya kecamatan Sei Lepan dari luas 273 hektare, yang rusak 63 hektare, kecamatan Brandan Barat dari luas 2.344 hektare yang rusak 1.794 hektare.

Menyusul kecamatan Pangkalan Susu dari luas 7.118 hektare yang rusak 4.618 hektare, kecamatan Besitang dari luas 377 hektare yang rusak 177 hektare, dan kecamatan Pematang Jaya dari luas 855 hektare yang rusak 205 hektare, ujarnya.

Tentang kerusakan hutan mangrove itu, tentu ini perlu menjadi perhatian serius dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Langkat, bila tidak ingin Langkat ini tenggelam karena abrasi air laut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: