Penambang Mesti Lirik Sektor Lain

Senin, 21 Juli 2014

KALTIM POST. SAMARINDA – Turunnya harga batu bara terus disiasati para pengusaha. Sejumlah tindakan alternatif produksi pun terus dilakukan, meski masih belum dapat menutupi kerugian para penambang. Beralih ke sektor lain pun mau tak mau mereka lakukan dengan mengandalkan modal sisa.
Seperti diketahui, harga batu bara acuan terus mengalami penurunan, menyusul pelemahan ekonomi global dan meningkatnya jumlah penawaran komoditas ini. Sempat menyentuh USD 127,05 pada Februari 2011. Lalu Juli ini, HBA kembali jatuh menjadi USD 72,45 per ton, yang merupakan rekor harga terendah sejak November 2011.
Harga batu bara termal di Tiongkok pun jatuh ke titik terendah sejak tujuh tahun. Harga batu bara dengan nilai energi 5.500 kilokalori per kilogram, di Pelabuhan Qinhuangdao turun menjadi 500 yuan atau setara USD 80,60 per metrik ton. Itu disebabkan stok di kawasan tersebut yang menumpuk dari 233 ribu ton pada pekan lalu menjadi 7,34 juta ton.
Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Batu Bara Samarinda (APBS) Eko Prayitno, salah satu solusi menghadapi anjloknya harga batu bara adalah dengan memaksakan stripping ratio yang rendah. Walaupun, cara tersebut pun dinilai belum mampu menutupi jatuhnya keuntungan pengusaha karena rendahnya harga.
Sekedar referensi, stripping ratio adalah perbandingan jumlah tanah kupasan penutup batu bara, dalam satuan meter kubik padat yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 ton batu bara.
Stripping ratio wajar itu sekitar 8 bem OB (overburden). Dengan penurunan harga seperti ini, untuk tetap mendapatkan keuntungan, batu bara dengan kadar kalori rendah hanya mampu menggunakan stripping ratio 3 bem OB,” jelasnya.
Dengan stripping ratio sekecil itu, kata Eko, pengupasan batu bara dinilai masih tak efektif. “Saat harganya masih bagus, batu bara dengan stripping ratio 20 bem OB saja, penambang masih bisa untung,”  lanjutnya.
Menyusul penurunan harga ini, lanjut dia, tak sedikit pengusaha yang. Jumlahnya pun tak terhitung lagi, terutama para pengusaha batu bara berkalori rendah.
“Banyak yang mengeluh karena modalnya ludes selama menggeluti bisnis batu bara. Sebagian dari mereka yang masih punya modal, lebih memilih menyimpannya untuk beralih ke bisnis lain,” ungkap dia.
“ Kebanyakan beralih ke properti, karena mungkin mereka pikir merasa itu lebih menjanjikan ketimbang berbisnis emas hitam. Namun, saya tidak mengetahui pasti berapa jumlah perusahaan yang beralih sektor itu,” tuturnya.
Sektor potensial lain seperti kelapa sawit pun dinilai cukup berat diambil para eks pengusaha batu bara. Itu dikarenakan, sektor ini membutuhkan modal yang juga relatif besar. “Tidak tahu kalau ada yang beralih ke sana. Tapi, dengan modal terbatas, saya rasa sulit beralih ke sawit yang modalnya juga tidak kecil,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim Dayang Donna Walfiaries Tania menganggap, selain faktor pelemahan ekonomi, turunnya harga batu bara tersebut juga disebabkan budaya kerja para pengusaha lokal yang buruk. Dia mengatakan, tak sedikit penambang yang hanya memikirkan kuantitas produksi tanpa memperhatikan kualitas batu bara.
“Sebenarnya, batu bara low calory Kaltim kualitasnya lebih bagus dari pada negara lain, seperti Australia karena sulfurnya rata-rata di bawah 1 persen. Hanya, kandungan ash atau debunya yang masih di atas 6 persen. Padahal, idealnya di bawah 5 persen,” jelas dia.
Hal tersebut dinilai Donna membuat para distributor atau pengguna lebih memilih batu bara dari negara lain yang kualitasnya lebih baik. “Itulah yang membuat harga batu bara semakin anjlok, karena sebagian dari mereka lebih memilih membeli di tempat lain dengan harga yang malah lebih murah,” imbuhnya.
Sembari menunggu membaiknya harga ini, Donna menyebut tak sedikit para penambang batu bara berkalori tinggi yang menurunkan produksi. Namun, bagi penambang batu bara kalori rendah, cara tersebut tak dapat dilakukan.
“Sebagian memang tetap jalan, tapi produksinya diturunkan. Tapi, untuk penambang batu bara low calory¸ mereka tidak bisa begitu. Batu bara mereka akan terbakar jika terlalu lama ditimbun,” ulasnya.
Donna mengimbau agar para pebisnis, terutama para pengusaha muda untuk melihat potensi dari sektor lain. Menurutnya, jika digarap serius, agrobisnis dan peternakan pun tak kalah prospektif dibanding batu bara.

“Apalagi, pemerintah tengah mengembangkan sektor ini. Pengusaha muda jangan cuma bisa menambang atau jadi kontraktor proyek. Masih banyak lahan potensial yang belum digarap,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s