Target Ekspor Produk Industri Dinaikkan Menjadi US$ 160 Miliar

Minggu, 20 Juli 2014

BERITA SATU. Jakarta – Ekspor produk industri dibidik bisa mencapai US$ 160 miliar hingga akhir 2014. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, target itu didukung oleh kondisi pasar ekspor di sejumlah negara. Dia mencontohkan, ekspor ke Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan dan pertumbuhan.

Benny mengatakan, target tersebut bukan mustahil dicapai. Menurut dia, produk-produk yang bisa diandalkan ekspor adalah produk olahan industri berbasis CPO, coklat, karet dan produk turunannya, otomotif, TPT, sepatu, furnitur, serta alat-alat listrik.

Karena itu, Benny mengharapkan, biaya logistik dan biaya energi harus lebih kompetitif. Menurut Benny, saat ini Kementerian Perhubungan berencana menaikan biaya di pelabuhan. Akibatnya, biaya THC yang harus ditanggung pelaku usaha bisa menjadi US$ 110 per TEUs dari sebelumnya US$ 95 per TEUs.

Benny mengkhawatirkan, hal itu akan mengganggu kinerja ekspor semester II tahun 2014 jika diberlakukan. Dan, ujar dia, menekan ekspor tahun 2015. Apalagi, imbuh dia, industri sedang mengalami goncangan akibat penaikan tarif listrik.

“Saya optimistis target ekspor produk industri tahun ini bisa dinaikkan. Sampai akhir tahun 2014, bisa mencapai US$ 160 miliar. Pasar membaik, salah satunya ekspor ke AS naik. Dengan catatan, biaya logistik dan biaya energi harus lebih kompetitif,” kata Benny usai acara Forum Komunikasi dan Safari Ramadhan bersama Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di Bandung, Jumat malam (18/7).

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, ekspor produk industri selama Januari-Mei 2014 mencapai US$ 48,69 miliar. Angka itu naik 2,95 persen dibandingkan periode sama tahun 2013. Ekspor produk industri tersebut berkontribusi sebesar 66,32 persen terhadap total ekspor nasional.

Dengan pencapaian itu, defisit neraca perdagangan produk industri pada Januari-Mei 2014 tercatat sebesar US$ 2,49 miliar. Angka itu menurun 72,1 persen dibandingkan periode sama 2013 yang sebesar US$ 8,94 miliar.

“Penurunan defisit itu ditopang oleh surplus neraca perdagangan pada bulan Februari, Maret, dan Mei 2014. Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait industri, saya optimistis, kinerja perdagangan produk industri akan semakin positif,” kata Menperin MS Hidayat.

Benny menambahkan, penurunan defisit tersebut juga didukung oleh berkurangnya impor produk industri.

“Kapasitas industri di dalam negeri semakin bisa memenuhi permintaan domestik. Impor barang jadi industri dan barang modal menurun. Penurunan impor barang jadi terjadi karena penerapan SNI. Otomatis, impor barang-barang yang tidak sesuai standar menurun. Sementara, ekspor terus meningkat. Hasilnya, defisit menurun,” jelas Benny.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s