Kemhut Dorong Pengembangan HTI Penghasil Bio Energi Sedikitnya 400.000 Hektare

Kamis, 24 Juli 2014

BERITA SATU. Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemhut) mendorong pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) penghasil bio energi seluas sedikitnya 400.000 hektare untuk membantu mengatasi krisis energi nasional. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman tentang Pengembangan Bioenergi Berbasis Hutan Tanaman yang diteken Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan Bambang Hendroyono dan Dirjen energi Baru Terbarukan dan Konservasi energi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Rida Mulyana di Jakarta, Kamis (24/7).

“Kami targetkan dalam lima tahun ke depan ada 50 perusahaan HTI yang bergerak memproduksi bioenergi dengan luas setidaknya 400.000 hektare,” kata Bambang usai penandatanganan kesepahaman.

Saat ini Kemhut telah melansir 254 unit izin HTI dengan luas areal pengelolaan 10,3 juta hektare. Bagi perusahaan yang tertarik untuk terlibat dalam program pengembangan hutan energi bisa melakukan perubahan rencana kerja usahanya.

Bambang mengungkapkan, berdasarkan kajian Badan Litbang Kehutanan ada empat jenis tanaman yang potensial untuk dikembangkan pada hutan tanaman energi. Yaitu Nyamplung, Bintaro, Kamelina, dan Kaliandra. Jenis tersebut adalah tanaman yang termasuk kategori cepat tumbuh dan bisa menghasilkan kalori energi yang tinggi.

“Nyamplung dan Bintaro dimanfatkan buahnya untuk menghasilkan biofuel, sementara Kamelina dan Kaliandra bisa dimanfaatkan sebagai energi biomassa,” kata Bambang.

Dia menambahkan, program pengembangan hutan tanaman energi menegaskan bahwa pengembangan hutan tanaman bukan hanya fokus pada penyediaan bahan baku bagi industri perkayuan tapi juga untuk mendukung ketahanan energi dan pangan.

Rida Mulyana menambahkan pengembangan hutan tanaman energi memastikan keberlanjutan pasokan demi tercapainya program pemerintah untuk mendorong penggunakan energi terbarukan.

Saat ini pemerintah menjalankan program pencampuran bahan bakar nabati sebesar 10% pada bahan bakar minyak (BBM) atau B10. Persentase bahan bakar nabati akan ditingkatkan menjadi 20% pada tahun 2016, yang diperkirakan mencapai 8 juta kiloliter.

“Pengembangan hutan energi adalah solusi energi untuk saat ini dan masa yang akan datang,” kata Rida.

Dia menuturkan saat krisis energi sudah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Jika Indonesia terus bergantung kepada bahan bakar fosil, maka krisis bisa meluas ke seluruh Indonesia. Rida mengingatkan energi adalah modal dasar bagi pembangunan.

Pengembangan HTI sebagai sumber bahan baku pulp dan sumber energi terbarukan telah berhasil dilakukan oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Perusahaan grup APRIL yang beroperasi di Riau itu memanfaatkan black liquor, cairan pekat yang dihasilkan dari pemrosesan kayu Akasia menjadi pulp dan ditambah dengan pemanfaatan kulit kayu, sebagai sumber energi terbarukan bagi pembangkit listrik penyuplai energi industrinya.

Presiden Direktur RAPP Kusnan Rahmin menjelaskan 85% bahan bakar pembangkit listrik RAPP berasal dari energi terbarukan. Ini berdampak pada pengurangan pemakaian bahan bakar fosil dan pengurangan emisi karbon ke atmosfer. “Selain bagi industri, listrik yang dihasilkan juga menyuplai kebutuhan listrik kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan,” kata Kusnan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s