Bea keluar ekspor konsentrat turun drastis, hanya 7,5 persen

Selasa, 29 Juli 2014

Merdeka.comAkhirnya pemerintah melunak dengan menurunkan drastis besaran bea keluar bagi perusahaan tambang yang tetap menginginkan mengekspor konsentrat. Awalnya, dalam Peraturan Menteri Keuangan No.6/2014 ini, bea keluar maksimal bagi ekspor konsentrat adalah 60 persen.

Namun, pemerintah memastikan besaran bea keluar hanya 7,5 persen. Meskipun penurunan besaran bea keluar sangat drastis, pemerintah yakin tidak akan mengurangi pendapatan negara dari ekspor.

“Sampai akhir tahun diperkirakan USD 5 miliar,” ucap Menteri Keuangan Chatib Basri di Kompleks Candra Wijaya, Jakarta, kemarin.

Salah satu perusahaan tambang yang dipastikan mendapat fasilitas keringanan bea keluar adalah PT Freeport Indonesia. Keringanan bea keluar termasuk satu dari enam poin kesepakatan dalam renegosiasi kontrak karya.

Dia menuturkan, keringanan bea keluar hanya akan diberikan kepada perusahaan tambang yang menyatakan keseriusannya membangun pabrik pengolahan atau smelter. Chatib tidak mempersoalkan jika nantinya ada perusahaan yang menggugat pengenaan bea keluar ke pengadilan arbitrase. Seperti yang tengah ditempuh Newmont Nusa Tenggara (NNT).

“Ada yang enggak mau, kemudian arbitrase akibatnya ekspor zero,” kata dia.

Besaran tarif bea keluar akan diturunkan secara progresif disesuaikan dengan perkembangan pembangunan pabrik pengolahan. Evaluasi akan dilakukan enam bulan sekali.

“Kalau dia enggak bangun, ESDM enggak akan kasih rekomendasi ekspor,” ujar dia.

Informasi saja, PMK Bea Keluar dibutuhkan perusahaan tambang untuk melakukan ekspor tambang mentah. Untuk ekspor bahan mentah, perusahaan tambang wajib menyerahkan uang jaminan pembangunan smelter dan membayar Bea Keluar.

Kementerian Keuangan langsung mengeluarkan aturan turunan soal pelonggaran ekspor mineral olahan berupa konsentrat setelah penerapan UU Nomor 4/2009 tentang minerba. Dalam Peraturan Menteri Keuangan No.6/2014 ini, bea keluar maksimal bagi ekspor konsentrat adalah 60 persen.

Berdasarkan draf PMK soal pelonggaran ekspor konsentrat mineral ini, diatur batas minimal pengolahan enam komoditas utama yang memperoleh kebijakan bea keluar progresif.

Pertama, konsentrat tembaga, dengan kadar minimal 15 persen. Kedua, konsentrat besi, kadar minimal 62 persen. Ketiga, konsentrat mangan, minimal 49 persen. Keempat, konsentrat timbal minimal 57 persen. Kelima, konsentrat seng minimal 52 persen. Keenam, konsentrat besi, minimal 58 persen baik untuk ilumenit maupun titanium.

Besaran pajak ekspor progresif ini ditingkatkan saban enam bulan sekali. Sepanjang 2014, besarnya untuk konsentrat yang diatur, sebesar 25 persen. Semester pertama tahun depan, meningkat 10 persen, lalu pada semester kedua 2015, meningkat lagi menjadi 40 persen. Maksimal, pada semester II 2016, bea keluar ini mencapai 60 persen.

Pengecualian hanya untuk tembaga, di mana bea keluar ini dipatok pada tahun ini 20 persen, untuk kemudian naik 10 persen tiap semester sampai 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s