Pemerintah Tak Berwenang Mengatur Kadar Kalori Batu Bara

Sabtu, 26 Juli 2014

Bisnis.com, JAKARTA—Pemerintah tidak memiliki kewenangan menentukan kadar kalori batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang Sumatra Selatan 8, 9, dan 10.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan kewenangan penentuan kalori batu bara berada di tangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

“Kalori batu bara tergantung jenis pembangkit yang digunakan. Hal itu ditentukan oleh PLN sesuai kebutuhannya,” katanya di Jakarta, Kamis (24/7/2014).

Jarman mengungkapkan penentuan kalori batu bara tidak ditentukan dalam Peraturan Menteri, namun mengacu pada ketersediaan stok batu bara yang ada di wilayah pembangkit.

Kepala Divisi Batu Bara PLN Helmi Najamudin mengatakan penentuan batu bara diawali dengan pengukuran spesifikasi kadar batu bara yang ada di suatu wilayah oleh ahli pertambangan. Selanjutnya, hasil pengukuran itulah yang akan dijadikan dasar bagi PLN untuk mendesain boiler PLTU.

“Kalau pembangunan PLTU dengan skema independent power producer (IPP) maka pengembanglah yang akan membangun boiler PLTU berdasarkan pengukuran tersebut,” ujarnya.

Perlu diketahui, pemerintah akan membangun PLTU mulut tambang Sumsel 8, 9, dan 10 berkapasitas total 3.000 Megawatt (MW) dengan skema kerja sama pemerintah swasta (public private partnership/PPP).

Saat ini tender PLTU Sumsel 8 telah dimenangkan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang berkonsorsium dengan China Huadian Hongkong (CHD) dengan pembagian saham 45% dan 55%.

PTBA juga telah memasukkan tender PLTU Sumsel 9 dan 10 yang sampai saat ini masih belum ada kejelasan. Ditanya soal kadar kalori batu bara yang akan digunakan untuk pembangkit tersebut,  Corporate Secretary PTBA Joko Pramono mengatakan kualitas batu bara proyek senilai US$1,6 miliar tersebut menggunakan kalori rendah.

Menurutnya, penggunaan batu bara berkalori rendah sudah sesuai dengan proses tender yang dilakukan antara PLN dan PTBA. Namun, penentuan kalori tetap memperhatikan efisiensi operasional yang tinggi serta biaya investasi yang efektif.

“Batu bara yang kami pergunakan di kisaran 4.200 kcal/kg GAR,” jelasnya.

Pengamat Ketenagalistrikan dari Universitas Indonesia Iwa Garniwa menyatakan penggunaan batu bara berkalori rendah kurang efisien karena membutuhkan jumlah batu bara yang lebih banyak.

“Kalau batu bara yang dibakar lebih banyak, tentu emisi karbon yang dihasilkan semakin tinggi,” tambahnya.

Dia menjelaskan idealnya kalori batu bara yang digunakan untuk pembangkit berkisar di atas 5.000 kcal/kg GAR. Namun, jika ingin menggunakan kalori yang rendah batasanya harus di atas 4.000 kcal/kg GAR agar efisien.

Selain itu, dia menimbau kesesuaian teknologi antara kadar kalori batu bara dengan boiler pembangkit. Kalau kadar batu bara yang digunakan rendah, jelasnya, jangan sampai boilernya untuk batu bara berkalori tinggi.

Meskipun tidak efisien dan menghasilkan emisi karbon yang tinggi, Iwa tetap mengapresiasi langkah pemerintah memanfaatkan batu bara berkalori rendah. Sebabnya, saat ini batu bara dengan kalori tersebut tidak dimanfaatkan.

“Diekspor pun saat ini hanya China yang mau menerima dan itu pun tidak digunakan untuk pembangkit,” paparnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s