Bergantung Satu Sektor, Antisipasi Lemah

Jumat, 08 Agustus 2014

KALTIM POST. SAMARINDA – Pertumbuhan ekonomi Kaltim kembali tumbuh negatif sepanjang triwulan II lalu, sebesar 0,19 (quarter to quarter). Penurunan ini tak lepas dari ketergantungan Bumi Etam terhadap minyak dan gas bumi (migas) dan batu bara yang merupakan komoditas utama. Upaya diversifikasi moneter ke sektor pertanian pun dinilai belum ampuh karena masih berkutat pada satu subsektor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari 9 sektor penawaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kontraksi di Kaltim terjadi pada jenis usaha, yakni pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Namun, melihat andilnya, dua sektor terakhir adalah pemicu utama.
Dengan share masing-masing mencapai 40,01 dan 25,14 persen, pertambangan dan industri pengolahan mencatatkan nilai produksi Rp 44,024 triliun dan Rp 27,666 triliun (harga berlaku). Mengacu pada harga konstan, kedua sektor ini tumbuh negatif 0,83 dan 0,64 persen dibanding periode yang sama, 2013 lalu.
“Penyebabnya dari komoditas migas, yang turun 10,23 persen pada sektor pertambangan dan 3,12 persen untuk industri pengolahan. Sementara nonmigas, meski melambat, pertumbuhannya masih positif, yakni 2,97 dan 6,25 persen, masing-masing pada pertambangan dan industri pengolahan,” ucap Kepala BPS Kaltim Aden Gultom.
Dia mengungkapkan, kondisi ini merupakan dampak dari pelemahan ekonomi global, yang berdampak pada merosotnya kondisi moneter di beberapa negara. Terutama, negara-negara yang menjadi tujuan pasar dari komoditas utama Kaltim, seperti batu bara dan migas.
“Fluktuasi harga komoditas global yang terkoreksi, bahkan cenderung menurun, membuat produsen di sejumlah sektor menahan produksi mereka. Sedangkan pada pertanian, penurunan terjadi karena triwulan II lalu adalah masa pascapanen,” jelas dia.
Penurunan tersebut, kata dia, terjadi pada jenis tanaman pangan yang baru mengalami masa panen raya di Kaltim pada triwulan sebelumnya. Sekadar pembanding, pada periode tersebut, pertanian memang tumbuh cukup signifikan, yakni 10,49 persen.
Jika mengabaikan dominasi migas dan batu bara, lanjut dia, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan II lalu masih bergerak positif 0,44 secara quarter to quarter dan 6,58 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year).
“Itu karena, secara year on year, hanya pertambangan dan industri pengolahan dengan dominasi batu bara dan migas, yang tumbuh negatif. Untuk sektor lainnya, semua tumbuh positif,” ujarnya.
Adapun kenaikan tertinggi, dicatatkan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yang triwulan II lalu sebesar 12,20 persen. Disusul sektor jasa-jasa lainnya (8,58 persen), transportasi dan komunikasi (8,08 persen), bangunan/konstruksi (6,53 persen), sektor pertanian (4,52 persen), sektor perdagangan (4,31 persen), sektor Listrik dan air bersih (3,48 persen).
Menanggapi kondisi tersebut, Akademisi Ekonomi Makro Universitas Mulawarman, Eny Rochaida menjelaskan, tren negatif itu terjadi karena Kaltim hanya mengandalkan sektor tertentu. Dia menyebut, harus ada transformasi perekonomian yang merujuk pada sumber daya alam (SDA) terbarukan, yang diikuti peningkatan industrialisasinya.
“Jadi bukan hanya mengandalkan langsung ekstraktifnya, tapi ada industri hilirnya lagi,” jelas dosen Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Mulawarman.
Mengenai rencana pemerintah mengembangkan pertanian sebagai motor utama ekonomi pengganti, Eny pun mempertanyakan. Sektor tersebut, disebutnya masih bergantung pada kinerja komoditas kelapa sawit.
“Itu membuat subsektor lain di pertanian tidak nampak sumbangsihnya. Apabila terjadi penurunan permintaan CPO, maka sektor pertanian Kaltim langsung anjlok,” ulasnya.
Meski begitu, dosen bergelar profesor itu mengapresiasi langkah pemprov dalam meningkatkan potensi pertanian di Kaltim. Dia menilai, upaya tersebut hanya lemah dari sisi antisipasi.
“Dari segi perencanaan, pemprov sudah maksimal mengakomodasi semua sektor ekonomi, termasuk pertanian. Tapi, antisipasi terhadap kegagalan perencanaan itu yang nampaknya belum maksimal. Padahal itu penting, agar pertumbuhan ekonomi bergerak positif, atau minimal konstan,” pungkas dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s