Indonesia Lumbung Energi

Jumat, 08 Agustus 2014

BERITA SATU. Semua sumber energi ada di Indonesia, mulai dari minyak bumi, gas bumi, batu bara, panas bumi hingga sumber-sumber energi alternatif lainnya yang jumlahnya melimpah. Namun, dalam pemanfaatannya, Indonesia masih tergantung pada energi fosil yang akan habis jika tidak ditemukan cadangan yang baru. Di sisi lain, pemanfataan energi baru terbarukan (EBT) belum optimal.

Indonesia masih mengandalkan minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara sebagai sumber energi utama. Padahal, dengan kebutuhan energi yang terus meningkat untuk industri, transportasi, dan rumah tangga, penyediaan sumber-sumber energi di luar migas dan batu bara sudah menjadi keharusan. Konsumsi energi di Tanah Air mencapai 180 juta ton setara minyak (milion ton oil equivalent/mtoe). Sektor industri mendominasi konsumsi sebesar 45 persen, sedangkan konsumsi sektor transportasi di urutan kedua sebesar 31 persen.

Saat ini, cadangan minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel, atau hanya 0,2 persen dari total cadangan minyak dunia. Cadangan sebesar itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-28 sebagai negara pemilik minyak paling banyak di dunia. Dengan produksi minyak saat ini yang sudah di bawah 800.000 barel per hari (bph), cadangan minyak Indonesia akan habis dalam jangka waktu 11 tahun lagi jika tidak ditemukan cadangan baru.

Kondisi yang sama juga terjadi pada gas bumi. Meski saat ini menjadi eksportir gas bumi, cadangan gas bumi Indonesia hanya sebesar 103,3 triliun kaki kubik (tcf) atau 1,6 persen cadangan dunia. Cadangan sebesar itu akan habis dalam 41 tahun mendatang apabila tidak ada penemuan cadangan baru. Bahkan, jika kebijakan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) jadi diterapkan, konsumsi gas bakal meningkat tinggi dan cadangan gas bumi kita akan lebih cepat habisnya.

Di masa depan, kebutuhan gas di Indonesia bakal naik pesat, seiring menipisnya ketersediaan minyak bumi. Saat ini memang konsumsi gas dalam negeri masih 50,3 persen dari produksi yang ada, sehingga sisanya diekspor. Namun, kondisi memprihatinkan akan terjadi bila gas terus dikuras dan tidak ditemukan cadangan baru, defisit gas bakal mengancam Indonesia dalam 20 tahun ke depan.

Karena cadangan yang terbatas, sudah saatnya Indonesia menggeser pola produksi dan konsumsi energi dari bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbarui (unrenewable), seperti migas dan batu bara, ke energi terbarukan yang bisa diperbarui (renewable). Kita memiliki energi alternatif seperti panas bumi, matahari, angin, dan air yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi pembangkit listrik.

Indonesia juga menjadi lahan yang subur untuk semua jenis tanaman yang bisa dijadikan sumber energi nabati atau biofuel. Juga, bukan hal yang mustahil jika Indonesia mulai mengarah ke penggunaan nuklir sebagai energi pembangkit.

Ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang masih sekitar 97 persen harus segera diakhiri. Akselerasi pemanfaatan energi nonfosil harus segera dilakukan. Konsumsi yang tinggi terhadap energi fosil telah membebani perekonomian nasional akibat tingginya impor minyak dan BBM. Saat ini ketergantungan terhadap BBM mencapai 49 persen. Sementara konsumsi BBM yang terus meningkat telah menyebabkan Pertamina harus menyiapkan dana sebesar US$ 150 juta per hari atau 25 persen likuiditas pasar valuta asing. Dana sebesar itu untuk membiayai impor minyak dan BBM guna menjaga stok nasional selama 23 hari. Tingginya impor minyak dan BBM menyebabkan nilai tukar rupiah terus tertekan dan terjadi defisit pada neraca perdagangan Indonesia.

Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang beragam dan dapat diperbarui, sehingga pengembangannya sangat terbuka. Energi alternatif yang bisa dikembangkan, antara lain bioetanol, biodiesel, tenaga surya, tenaga air, dan tenaga angin. Bioetanol yang dapat diproses dari olahan tetes tebu, ketela pohon, dan rumput gajah dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar premium dan solar. Biodiesel dapat dikembangkan dari tanaman jarak atau sawit yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia.

Pengembangan sumber energi alternatif lainnya, seperti tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga air juga masih sangat terbuka. Namun, untuk mengembangkannya dibutuhkan kemauan kuat dari pemerintah. Indonesia bisa mencontoh Jepang, Tiongkok, dan beberapa negara Eropa yang telah melakukan komersialisasi terhadap sumber energi matahari melalui teknologi solar cell. Sumber energi alternatif lainnya yang bisa dikembangkan adalah panas bumi. Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi dunia. Namun, pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi di Indonesia saat ini belum optimal, baru mencapai 4,2 persen atau setara 1.189 megawatt (MW)

Ketahanan energi kini menjadi perhatian utama berbagai negara di dunia. Indonesia harus meninggalkan ketergantungan pada minyak dan beralih ke energi alternatif karena potensinya sangat melimpah. Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) harus terus ditingkatkan dari saat ini yang hanya 6 persen. Dengan memanfaatkan semua sumber energi alternatif yang dimiliki, Indonesia tidak saja dapat memenuhi seluruh kebutuhan energinya, tapi juga menjadi lumbung energi dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s