Gawat! Dekade Depan Indonesia Bisa Alami Krisis Pangan

Jum’at, 08 Agustus 2014

Bisnis.com, JAKARTA–Indonesia terancam mengalami krisis pangan nasional jika tidak mendapat areal tanam seluas 13,3 juta ha pada 2025 atau sekitar satu dekade dari sekarang.

Pakar sumber daya lahan pertanian Irsal Las menjabarkan, risiko krisispangan semakin tinggi apabila angka produktivitas padi dan tanaman pangan lainnya tidak meningkat mengiringi permintaan konsumsi.

“Angka tersebut sudah disesuaikan dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk,” ujarnya, Jumat (8/8/2014).

Dia merinci, dibutuhkan kurang lebih 7,3 juta ha areal sawah, 1,4 juta ha untuk kedelai, jagung 2 juta ha, serta tebu dan hortikultura sebesar 2,6 juta ha untuk memenuhi kecukupan pangan penduduk Indonesia yang tumbuh 1,3% per tahunnya.

Bappenas mengestimasi penduduk Indonesia akan membengkak menjadi 284,82 juta pada 2025, meningkat 46,31 juta dibandingkan pada 2010 yang hanya 238,51 juta penduduk.

Pada 2015 sendiri, Bappenas mengestimasi penduduk Indonesia telah mencapai 255,46 juta orang.

Adapun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, Indonesia akan mengalami neraca pangan negatif pada 2020 apabila program peningkatan produktivitas areal dan diversfikasi pangan mengalami kegagalan.

BKKBN mendasarkan asumsi kebutuhan pada angka konsumsi padi per kapita sebesar 125,3 kg, sementara angka konsumsi padi yang diklaim oleh Kementerian Pertanian lebih besar lagi, yaitu 139 kg.

Di sisi lain, Irsal menjabarkan, posisi ketersedian lahan pertanian sampai sejauh ini hanya 25,82 juta pada lahan kering dan 7,3 juta ha pada lahan rawa.

Meskipun tersedia cukup besar, dia mengaku pesimistis angka tersebut mampu dimanfaatkan sebagai areal pertanian karena sejumlah masalah klasik menghadang seperti kebijakan tata-kelola dan kepemilikan hak guna usaha (HGU) yang tidak beres.

“Selain itu adalah masalah infrastruktur pertanian yang umumnya tidak tersedia di lahan itu. Ini dibutuhkan kerja sama dengan Pekerjaan Umum,” tambahnya.

BPS mencatat, dari 2010 hingga 2014 atau selama 5 tahun, luas panen padi Indonesia tidak pernah beranjak dari kisaran angka 13 juta ha, yaitu 13,25 juta ha pada 2010 menjadi 13,56 juta ha pada 2014 (Angka Sementara I/2014).

Bahkan, Asem I menunjukkan luas areal panen padi Indonesia mengalami penurunan sebesar 270.000 ha dari 13,83 juta ha pada 2013.

Haryono, Plt. Dirjen Tanaman Pangan dan Kepala Balitbang Kementerian Pertanian, mengakui kementerian selalu kesulitan apabila berhadapan dengan urusan tanah.

Tidak hanya itu, Kementan juga mencatat bahwa saat ini setiap tahunnya Indonesia kehilangan lahan seluas 100.000 ha yang terkonversi menjadi perumahan dan atau kawasan industri, sementara percetakan lahan reguler tidak mampu mengimbangi laju konversi tersebut.

Sebab, tuturnya, masalah ekspansi areal persawahan bertumbukan dengan banyak kepentingan dan kementerian lainnya.

Dia menjabarkan, pihaknya sudah mengeluarkan kawasan hutan lindung dari estimasi tersebut, namun masih saja mengalami kesusahan ketika akan mengeksekusi perluasan areal.

“Soal HGU, BPN yang memiliki daftar itu dan berhak mengeluarkan daftar, perusahaan mana saja yang pro atau tidak dalam perluasan areal sawah,” ungkapnya.

Dia menuturkan, perluasan lahan memang tidak terlalu mendesak saat ini karena Indonesia masih bisa mengandalkan produktivitas areal panen.

Namun dalam jangka panjang, ujarnya, negara terancam tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan pangan apabila luas tanam tidak segera meningkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s