Kredit macet tahun ini akan didominasi UMKM dan tambang

Kamis, 14 Agustus 2014

Merdeka.comBank Indonesia (BI) memantau perkembangan terbaru rasio kredit macet (non-performing loan) hingga Juni 2014. Data terakhir menunjukkan NPL berada di level 2 persen.

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menyatakan NPL sampai akhir tahun akan tinggi untuk beberapa sektor saja. Salah satu yang dipetakan paling berisiko gagal bayar adalah perusahaan berbasis sumber daya alam.

“Khususnya yang terkait pertambangan, dan sub-sektor perdagangan,” ujarnya selepas Rapat Dewan Gubernur di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (14/8).

Di luar itu, tingginya suku bunga kredit juga mempengaruhi kemampuan bisnis kelas menengah. Cicilan kredit tinggi bisa mengerek rasio NPL untuk nasabah dengan modal cekak. “Sebagian sektor UMKM mengalami kenaikan NPL,” kata Halim.

Walaupun baru dugaan awal, bank sentral yakin fenomena gagal bayar sampai akhir tahun tidak sporadis. Mayoritas debitur perbankan akan tetap mampu membayar cicilan kredit meski kini bunganya cenderung meningkat.

“Bukan suatu gejala yang luas. Ini lebih terkait kesehatan nasabah individual.”

Bahkan, dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi, belum tentu kredit macet akan melonjak. BI pernah melakukan simulasi, ketika terjadi penurunan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 1 persen, itu hanya meningkatkan NPL ke level 0,1 persen 0,2 persen.

“Jadi memang tidak terlalu besar,” kata Halim.

Tahun lalu, rasio kredit macet nasional sebesar 1,8 persen. Bank sentral memberi batas maksimum NPL 5 persen untuk seluruh perbankan di Tanah Air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s