Benahi Dulu Infrastruktur dan Listrik, Baru Bicara Investasi

Senin, 18 Agustus 2014

KALTIM POST. Ketersediaan sarana infrastruktur seperti jalan, telekomunikasi, dan transportasi adalah penting untuk merangsang pertumbuhan investasi di Benua Etam. Jika itu terpenuhi, barulah Kaltim ini akan tampak lebih seksi di mata investor.
“SAMPAI sekarang juga Kaltim masih terbatas dari segi infrastruktur seperti akses menuju daerah lain,” ucap Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kamar Dagang dan Industri Kaltim (Kadin) Kaltim Syaiful Anwar Selasa (12/8) lalu di kantor Kadin Kaltim Jalan Jenderal Sudirman.
Dia mengatakan, namun walaupun pembangunan sedang gencar dilakukan, hal yang paling mendasar bagi pengusaha adalah listrik. Dengan kata lain, setrum menjadi masalah prioritas bagi tiap daerah di Kaltim, tak hanya di Samarinda yang mengalami krisis listrik. “Seandainya pasokan listrik itu cukup, maka pengusaha pun senang,” ujarnya.
Hingga sekarang, lanjut dia, belum ada grand desain yang serius membangun pembangkit listrik yang bisa mencukupi kekurangan pasokan setrum ke Kaltim. “Percuma saja Kaltim disebut sebagai lumbung energi,” kata Syaiful.
Dia menambahkan, Kadin Kaltim menginginkan adanya perencanaan yang terintegrasi mengenai masalah krisis listrik ini. Semua investor pun berpikir demikian, selain mengeluh soal akses dan sarana transportasi menuju daerah lain di Kaltim. “Pasokan listrik adalah masalah penting,” tegasnya.
Tak hanya itu, Syaiful juga menyinggung mengenai pembangunan Pelabuhan Internasional Maloy di Kutai Timur (Kutim) hingga saat ini belum ada capaian kumulatif hingga Juni 2014. Walaupun pembebasan lahan dan pembangunan akses sepanjang 17,3 kilometer telah dilakukan, tapi langkah nyata belum terlihat. “Kalau mau serius pasti bisa,” katanya lagi.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Investasi Alexander Sumarno memaparkan, dua tahun lalu Kaltim sudah menjalankan program swasembada pangan berupa beras. Namun dinilai gagal lantaran hanya tercapai 563.850 ton gabah kering giling (GKG) pada 2013 sementara itu pada 2012 sempat dihasilkan 1.891 ton GKG. “Tapi tetap saja pasokan beras datang dari Sulawesi Selatan dan Jawa. Jadi ndak perlu swasembada pangan,” akunya.
Wajar saja Alex berkata demikian, pasalnya walaupun Kaltim hendak mencukupi pangan dengan usaha sendiri, tetap saja memasok dari luar Kaltim. “Mengapa demikian,” tanya Alex.
Menurutnya, hal yang menyebabkan itu terjadi adalah akses menuju daerah distribusi Samarinda belum layak. Pasalnya daerah penghasil beras berada di kawasan Kutim, Kutai Barat (Kubar), Kutai Kartanegara (Kukar), Berau, dan Malinau. Semisal, ingin mengangkut hasil produksi dari Muara Wahau, Kutim ke Samarinda, biaya pengangkutan tersebut mahal. “Itu baru dari Wahau belum dari Berau ke Samarinda,” katanya.
Walaupun ada kegiatan kontrak tahun jamak 2011-2013, ada sekitar 15 pembangunan infrastruktur. Sementara itu prasarana lainnya yang sedang dibangun adalah
Kawasan Industri Kariangau (KIK) di Balikpapan, Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Maloy di Kutim yang hendak dipersiapkan untuk crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit serta rencana Bandara Maratua (Berau). Namun hingga saat ini pembangunan infrastruktur tersebut hanya beberapa yang mencapai target 100 persen.
“Rencana iya. Artinya perbaikan kan terus dilakukan,” paparnya.
Bila hendak mencoba, kata dia, boleh menggunakan kendaraan darat dari Samarinda menuju Berau. Sudah pasti melewati daerah lain seperti Bontang dan Sangatta serta kawasan lainnya. “Mengendarai mobil penumpang belum tentu mendapatkan kecepatan sekitar 80 kilometer per jam apalagi memakai truk angkutan barang,” sebut Alex.
Dia menjelaskan, bila hendak melihat potensi daerah hanya ada dua hal yakni sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Misalnya, pisang kepok di Kaltim saat ini jumlahnya dikatakan banyak daripada daerah lain. “Ini kan bisa menjadi potensi bisnis. Boleh dibuat pabrikan, tapi kembali lagi ke masalah setrum,” tuturnya.
Sementara itu SDM, lanjut dia, bisa dilakukan dengan menarik kembali warga Kaltim yang berada di luar daerah ataupun negeri untuk pulang mengembangkan Timur Borneo. “Tapi kualitas tentunya diimbangi dengan kuantitas,” katanya.
Dia juga menambahkan, potensi teritorial juga memengaruhi sebuah daerah. Perhatikan, kawasan pesisir seperti Balikpapan dan Sanga-Sanga, Kukar. Kedua daerah tersebut merupakan penghasil minyak bumi lantas dikelola perusahaan. “Komunitas akan membuat kawasan tersebut ramai,” cetusnya.
Lainnya kata dia, ialah daerah Muara Muntai, Kukar sementara  Muara Pahu dan Muara Beloan berada di Kubar adalah daerah penghasil ikan. Kawasan tersebut bisa dikembangkan ke arah yang baik bila sadar dengan potensi alamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s