Embalut Urutan 4 Nasional

Senin, 18 Agustus 2014

KALTIM POST. TENGGARONG – Tenggarong Seberang (Kukar), terutama di Desa Mulawarman, memang banyak diserbu pertambangan. Namun, bukan berarti tak ada prestasi. Desa Embalut di kecamatan ini, baru saja dinyatakan meraih ranking 4 se-Indonesia, karena dianggap bisa survive dari dampak tambang.
Dalam Lomba Desa Tingkat Nasional 2014 yang digelar Kementerian Dalam Negeri ini, ada beberapa yang dinilai. Di antaranya tingkat partisipasi warga dalam semua sektor, seperti pendidikan, kesehatan, pelestarian lingkungan hingga ketertiban. Termasuk aspek administrasi desa, berikut pertanggungjawaban penggunaan dananya.
Desa Embalut, berhasil masuk ke urutan 4, setelah bersaing dengan 72.943 desa se-Indonesia. Mereka merintis asa juara nasional, setelah secara bertahap menang di tingkat Kukar, provinsi, hingga 10 besar nasional, 6 besar nasional, dan akhirnya menduduki peringkat 4 nasional.
Kunci sukses mereka, karena program penanganan daerah eks lahan tambangnya berhasil.
“Kami memiliki program rumah pangan lestari. Tanaman pangan tumbuh di lahan bekas tambang,” sebut kepala Desa Embalut, Mus Mulyadi.
Mus menambahkan, luas pertanian di atas lahan eks tambang itu mencapai 10 hektare. Ditanam padi, jagung, kedelai, dan singkong. “Untuk menambah kesuburan tanah, pengembangan saat ini juga ke arah peternakan,” terangnya.
Sebenarnya, para petani Embalut ini juga merupakan binaan PT Kitadin yang memulai program pertanian tumpang sari tomat dan durian pada November 2013. Nah Januari lalu, atau sekitar 75 hari setelah tanam, sebanyak 1.939 kilogram tomat dipanen oleh Kelompok Tani Ternak Hidup Jaya dengan harga jual Rp 6.000 per kilogram.
Penjualan kotor dari budi daya pertama ini menghasilkan pundi-pundi sebesar Rp 13.047.000. Panen durian diharapkan dapat menyusul sekitar 5 tahun kemudian.
Lahan tumpang sari tomat dan durian seluas 2.500 meter persegi tersebut menempati sebagian lahan sistem pertanian terpadu seluas 16 hektare milik Kitadin Embalut yang pengelolaannya diserahkan kepada Kelompok Ternak Mandiri Bersama.
Dia menyebut, lahan eks tambang Kitadin ini disulap menjadi perkebunan dalam arti luas yakni dengan sistem tumpang sari yakni cara bertani dengan menanam dua atau lebih tanaman di satu lahan dengan tujuan menghasilkan produksi lebih banyak.
Dengan teknik tumpang sari ini, tanaman durian tidak perlu lagi pupuk kandang lanjutan karena sudah menerima pupuk yang diberikan pada tanaman tomat. Biaya perawatan tanaman durian (pembersihan gulma dan pengobatan) berkurang karena adanya perawatan tomat. Diharapkan pertanian tumpang sari menjadi program yang berkelanjutan  dan menjadi model dalam program pelestarian ketika ada rencana tutup tambang.
Adapun dalam kompetisi ini, sembilan desa jadi saingan berat Embalut ketika masuk 10 besar. Yakni Desa Maria (Kabupaten Bima, NTB), Desa Pagedangan (Kabupaten Tangerang, Banten), Desa Panggung Harjo (Kabupaten Bantul, Jogja), Desa Padang Balua (Kabupaten Luwu Utara, Sulsel). Lalu Desa Ekasari (Kabupaten Jembrana, Bali), Desa Pandai Sikek (Kabupaten Tanah Datar, Sumbar), Desa Buatan Baru (Kabupaten Siak, Riau). Juga Desa Langung (Kabupaten Aceh Barat), dan Desa Gunung Sari (Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara).
Di lain sisi, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengatakan, Embalut harus menjadi contoh bagi desa lainnya di Kukar, bahkan Kaltim. Karena memberikan inspirasi dalam inovasi pengembangan potensi daerah.
“Upacara peringatan detik-detik proklamasi di Tenggarong, tak mungkin saya tinggalkan. Sehingga penghargaan itu diwakilkan dengan diambil oleh kadesnya langsung. Namun yang penting, ini patut kami syukuri. Ini bukti pemerintah daerah sangat mendorong prestasi desanya,” sebutnya.
“Pada prinsipnya desa ini akan menjadi contoh bagi desa lainnya, bahkan nantinya desa ini akan memiliki akses internet. Mengingat potensi pengembangan perdesaan merupakan basis pembangunan, lebih dekat dengan aspirasi dan partisipasi masyarakat, maka ini harus terus didorong,” tambah Rita kepada Kaltim Post, usai pemberian remisi di Lapas Klas IIB Tenggarong, kemarin.
Ia mengatakan, prestasi yang diperoleh Embalut ini tak lepas dari peran kepala desa berlatar akademisi. “Gelar doktor si kades sangat penting dalam visi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena potensi keilmuannya bisa dimanfaatkan secara optimal,” ucapnya.
Untuk diketahui, Kepala Desa Embalut Mus Mulyadi memiliki latar belakang pendidikan S-3. Rita menaruh penghargaan setinggi-tingginya, apalagi bila kades dengan pendidikan tinggi ini bisa mendorong teknologi informasi masuk ke desa, sehingga bisa diakses dari pusat.
“Kalau Embalut bisa berprestasi, seharusnya desa-desa yang lain juga bisa. Embalut bisa menjadi semangat dan atmosfer bagi desa lain untuk berpartisipasi. Ada banyak hal yang bisa di contoh dari Desa Embalut, seperti sistem informasi dan sistem kinerja pemberdayaan masyarakat dengan data yang komplet,” terangnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s