Surplus Neraca Pembayaran Indonesia US$ 2,2 Miliar‏

Saturday, 16 August 2014

Jakarta, GATRAnews Bank Indonesia (BI)mencatat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II-2014 membaik di tengah tekanan defisit transaksi berjalan yang meningkat. Surplus NPI meningkat dari US$ 2,1 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi US$ 4,3 miliar pada triwulan II-2014.

 

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Tirta Sagara mengatakan membaiknya kinerja NPI tersebut ditopang transaksi modal dan finansial yang mencatat peningkatan surplus yang signifikan dibandingkan dengan triwulan I-2014 sehingga dapat membiayai sepenuhnya defisit transaksi berjalan yang melebar sesuai pola musimannya.

 

Peningkatan surplus NPI triwulan II-2014 tersebut pada gilirannya mendorong kenaikan posisi cadangan devisa dari US$ 102,6 miliar pada akhir triwulan I-2014 menjadi US$ 107,7 miliar pada akhir triwulan II-2014. “Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri Pemerintah selama 6,1 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional. Pada Juli 2014, posisi cadangan devisa kembali meningkat menjadi US$ 110,5 miliar,” kata Tirta.

 

Meskipun mengalami peningkatan defisit dibanding triwulan sebelumnya, kinerja transaksi berjalan triwulan II-2014 lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Defisit transaksi berjalan triwulan II-2014 mencapai US$ 9,1 miliar atau 4,27% PDB, lebih rendah dibandingkan dengan defisit sebesar US$ 10,1 miliar atau 4,47% PDB pada periode yang sama tahun 2013.

 

“Perbaikan kinerja transaksi berjalan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas seiring penurunan impor mengikuti pelemahan permintaan domestik. Namun demikian, peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan defisit neraca perdagangan migas,” kata Tirta.

 

Defisit transaksi berjalan triwulan II-2014 lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan I-2014 sebesar US$ 4,2 miliar atau 2,05% PDB. Di sisi nonmigas, surplus neraca perdagangan nonmigas menyempit karena impor nonmigas meningkat 12,4% (qtq) antara lain terkait dengan naiknya kebutuhan menjelang puasa dan Idul Fitri.

 

Ekspor nonmigas tumbuh 1% (qtq) dipengaruhi turunnya permintaan ekspor berbasis sumber daya alam, seperti batubara dan minyak nabati, seiring dengan melambatnya pertumbuhan di negara emerging serta dampak kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah.

 

Sementara itu, ekspor produk manufaktur terus meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara maju. Di sisi migas, defisit neraca perdagangan migas melebar karena impor migas meningkat, terutama karena bertambahnya volume impor minyak mentah, sementara ekspor migas mengalami penurunan terutama akibat ekspor LNG yang lebih rendah.

 

Selain itu, tekanan defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi oleh melebarnya defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer. Pada triwulan II-2014, sesuai dengan pola musimannya, defisit neraca jasa melebar akibat meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang seiring dengan kenaikan impor serta meningkatnya perjalanan masyarakat ke luar negeri selama musim liburan sekolah.

 

Dalam periode yang sama, defisit neraca pendapatan primer juga meningkat mengikuti jadwal pembayaran dividen dan bunga utang luar negeri kepada investor asing. “Di tengah berlanjutnya ketidakpastian pasar keuangan global, kepercayaan investor asing yang masih kuat terhadap prospek ekonomi Indonesia mendorong peningkatan surplus transaksi modal dan finansial,” kata Tirta.

 

Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2014 mencapai US$ 14,5 miliar, meningkat signifikan dari US$7,6 miliar pada triwulan I-2014, didukung oleh derasnya aliran masuk modal portofolio dan aliran masuk investasi langsung yang tercatat lebih besar dibandingkan dengan triwulan I-2014 sebagai cerminan terpeliharanya optimisme investor terhadap prospek perekonomian domestik.

 

Selain itu, surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan laporan juga ditopang oleh transaksi investasi lainnya yang mencatat surplus setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit. Surplus transaksi investasi lainnya terutama berasal dari penarikan simpanan milik perbankan domestik di luar negeri, selain untuk memenuhi kebutuhan nasabah juga untuk memanfaatkan fasilitas simpanan berupa instrumen term deposit valas yang disediakan oleh Bank Indonesia.

 

Sesuai dengan pola musimannya dan mulai kembalinya ekspor mineral, defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2014 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II-2014. Permintaan domestik yang terkendali dan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir telah terdepresiasi ke arah nilai fundamentalnya akan mengurangi impor barang dan jasa.

 

Neraca perdagangan barang diperkirakan kembali mencatat surplus, sementara defisit neraca jasa neraca pendapatan primer diperkirakan menurun. Sementara itu, kembali dimulainya kegiatan ekspor tembaga mentah diperkirakan berkontribusi positif terhadap kinerja ekspor nonmigas di tengah perkiraan pertumbuhan harga komoditas global yang kembali menurun.

 

Selain itu, ekspor manufaktur juga diperkirakan akan membaik sejalan dengan terus berlanjutnya pemulihan di negara maju “Dalam jangka menengah-panjang, BI berkeyakinan kinerja NPI akan semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh Bank Indonesia serta langkah reformasi struktural yang akan ditempuh Pemerintah, baik di sektor riil maupun di sektor migas,” kata Tirta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s