Ekspor dan harga minyak sawit Indonesia anjlok

Senin, 25 Agustus 2014

Merdeka.comPara pelaku pasar kepala sawit mengaku, harus menghadapi kenyataan pahit karena permintaan CPO tidak meningkat secara signifikan. Hal ini seiring dengan produksi yang meningkat di Indonesia dan Malaysia tetapi permintaan pasar global anjlok.

Volume ekspor CPO dan turunannya pada Juli 2014 tercatat meningkat sekitar 55 ribu ton atau hanya 3 persen dibandingkan dengan bulan lalu, dari 1,79 juta ton pada Juni menjadi 1,84 Juta ton pada Juli 2014. Kinerja ekspor CPO ini di luar ekspektasi mengingat pada akhir bulan Juli ada perayaan hari raya Idul Fitri, di mana pada tahun-tahun sebelumnya permintaan selalu naik secara signifikan demikian juga harga.

Tahun ini, nasib CPO di pasar global tidak semujur tahun-tahun sebelumnya. Melimpahnya stok minyak nabati lain (soybeen, rapeseed dan bunga matahari) diikuti dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara pengimpor utama yaitu China dan India. “Dengan harga minyak solar yang datar saja pada bulan Juli tidak mendorong substitusi

solar oleh biodiesel sehingga produsen CPO harus menghadapi kenyataan pahit, di mana permintaan pasar global melemah dan harga juga lesu,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Fadhil Hasan dalam rilis yang diterima merdeka.com, Senin (25/8).

Pada Juli ini, kenaikan ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia ke negara tujuan ekspor yang merupakan pasar baru yang cukup berpotensial meskipun secara kuantitas belum banyak adalah negara-negara Afrika.

Pada Juli ini, volume ekspor ke negara-negara Afrika tercatat meningkat 71 persen dibandingkan bulan lalu yaitu dari 102 ribu ton menjadi 175 ribu ton. Kenaikan volume ekspor ini juga disusul oleh Amerika Serikat yang meningkatkan permintaan hampir 11 ribu ton (41 persen) dari 26,5 ribu ton menjadi 37,3 ribu ton pada Juli 2014.

Hal yang sama juga diikuti oleh negara Uni Eropa yang membukukan kenaikan sekitar 11% dari 381 ribu ton pada Juni lalu menjadi 408 ribu ton pada Juli. India juga mencatatkan kenaikan meskipun tidak signifikan. Volume ekspor ke India pada Juli ini meningkat sekitar 3 persen dari 397 ribu ton di Juni menjadi 408 ribu ton di Juli 2014.

Pertumbuhan ekonomi China terus melambat pada tahun ini. Padahal, China adalah negara tujuan ekspor CPO terbesar Indonesia. Juli ini volume ekspor ke China turun cukup signifikan yaitu sebesar 51 ribu ton atau 27 persen, dari 189 ribu ton menjadi 138 ribu ton. Penurunan ekspor ke Negeri Panda ini selain disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat juga karena kesulitan yang sama yang dihadapi oleh para pengusaha pada bulan lalu yaitu mencari pinjaman bank.

Penurunan ekspor yang cukup tajam juga tercatat ke Bangladesh yaitu 55 persen, disusul Pakistan juga membukukan penurunan mencapai 14 persen. Dari sisi harga, harga rata-rata CPO di Rotterdam pada Juli 2014 bergerak di kisaran USD 817 sampai USD 872 per metrik dengan harga rata-rata USD 843 per metrik ton.

Harga rata-rata ini turun sekitar 1,5 persen dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Juni USD 856 per metrik ton. Harga rata-rata CPO di pasar global (Cif Rotterdam) tercatat terus tergerus mulai sejak April lalu berturut-turut sampai pada Juli 2014. (April turun 5 persen, Mei turun 1,7 persen, Juni turun 4,4 persen dan Juli ini turun 1,5 persen). “Stok CPO di Indonesia dan Malaysia yang melimpah, penurunan harga minyak nabati lainnya, kebijakan dalam negeri sampai kebijakan-kebijakan negara tujuan ekspor.

Tren penurunan harga CPO pasar global diperkirakan terus berlanjut. Pada Dua pekan pertama Agustus ini harga CPO global kembali terjerembab, harga hanya bergerak di kisaran USD 755 sampai 810 per metrik ton,” ujarnya.

GAPKI memperkirakan harga CPO hingga akhir Agustus akan cenderung bergerak turun di kisaran harga USD 715 -USD 750 per metrik ton. Sementara itu Harga Patokan Ekspor Agustus 2014 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar USD 794 dan Bea Keluar 10,5 persen dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPO Rotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar USD 865,5. “Melihat tren penurunan sepanjang akhir Juli hingga dua pekan pertama Agustus, GAPKI memperkirakan Bea Keluar untuk September akan turun menjadi 9 persen,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s