Harga Karet Anjlok: Begini Nasib Perusahaan Karet di Riau

Minggu, 24 Agustus 2014

Bisnis.com, PEKANBARU — Anjloknya harga karet membuat sejumlah perusahaan pengolahan karet di Riau mengurangi produksinya, karena kekurangan bahan baku.

Nur Hamlin, Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Riau, mengatakan anjloknya harga karet membuat sebagian petani mengalihkan tanamannya menjadi kelapa sawit.

Hal tersebut membuat sejumlah perusahaan pengolahan karet di Riau kekurangan bahan baku, dan memproduksi karet olahan di bawah kapasitas produksinya.

“Penurunan harga karet membuat bahan baku untuk perusahaan menjadi langka, kami pun harus bersaing dengan perusahaan pengolahan karet dari luar Riau yang membeli bahan baku langsung dari petani di sini,” katanya di Pekanbaru, Minggu (24/8/2014).

Nur Hamlin menuturkan saat ini sejumlah perusahaan pengolahan karet di Riau memang menawar harga bahan baku lebih murah dibandingkan dengan perusahaan dari wilayah lain.

Hal tersebut disebabkan tingginya ongkos produksi, karena belum ada pelabuhan di Riau yang dapat digunakan untuk membawa karet ke pembeli.

Menurutnya, pengusaha terpaksa menekan harga bahan baku dan melakukan efisiensi ongkos lainnya, agar dapat menjual karet olahan sesuai dengan harga pasar.

Selama ini, perusahaan karet olahan yang ada di Riau menggunakan Pelabuhan Belawan di Medan, Sumatra Utara untuk menjual produknya.

“Karena kami masih menggunakan Pelabuhan Belawan, tentu biaya tansportasi kami lebih tinggi. Hal itu masih ditambah dengan risiko kehilangan produk kami saat diantarkan ke pelabuhan itu,” ujarnya.

Saat ini, Gapkindo Riau bersama otoritas pelabuhan Riau menjajaki penggunaan Pelabuhan Sungai Duku, dan Perawang di Pekanbaru sebagai tempat pengapalan produk karet olahan.

Akan tetapi, kedua pihak masih harus mempersiapkan infrastruktur dan memperkenalkan pelabuhan tersebut kepada pelaku industri karet lain.

Tingginya biaya produksi perusahaan pengolahan karet di Riau juga disebabkan panjangnya proses pengolahan bahan baku yang berasal dari petani.

“Harga karet yang anjlok membuat petani menambahkan bahan campuran ke dalam karet untuk menambah beratnya, itu kemudian membuat proses pengolahan kami lebih panjang dengan biaya yang lebih mahal,” ucapnya.

Berdasarkan Data Dinas Perkebunan Riau, saat ini ada delapan perusahaan pengolahan karet yang beroperasi di Riau, yakni PT Bangkinang yang memproduksi SIR-10 dan SIR-20 dengan kapasitas produksi 14.000 ton per tahun, PT Ricry yang memproduksi SIR-10 dan SIR-20 dengan kapasitas 24.000 ton per tahun.

Kemudian, PT Tirta Sari Surya yang memproduksi SIR-20 dengan kapasitas 30.000 ton per tahun, PT Perkebunan Nusantara (Persero) V Bukit Selasih menghasilkan SIR-3 LWF dengan kapasitas 3.600 ton per tahun, PT Perkebunan Nusantara (Persero) V Sei Lidai mengolah RSS berkapasitas 8.000 ton per tahun.

Kemudian PT Bangkinang di Kabupaten Kampar yang memproduksi RSS, PT Andalan Agro Lestari menghasilkan SIR-20 dengan kapasitas 42.000 ton per tahun, PT Hervenia, dan PT Ricry di Simalinyang.

Selain itu, ada juga PT Adei Plantation memproduksi SIR-3 LWF dengan kapasitas 5.600 ton per tahun yang sedang dalam proses beralih ke pengolahan kelapa sawit.

Sebelumnya juga ada PT Mitra Unggul Perkasa dan PT Mardec Nusa Raya yang beralih komoditas, dari yang sebelumnya mengolah karet menjadi perusahaan pengolahan kelapa sawit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s