Permintaan Lemah, Ekspor CPO Masih Rapuh

Selasa, 26 Agustus 2014

Bisnis.com, JAKARTA—Performa ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kian rapuh hingga dua bulan setelah Idulfitri, dipicu oleh masih melemahnya permintaan global dan kelebihan produksi di Malaysia. Ini adalah rekor pelemahan di luar tren tahunan.

Ekspor CPO dan turunannya pada Juli hanya terkerek 3% dari bulan sebelumnya menjadi 1,84 juta ton. Kenaikan yang tipis tersebut dinilai sebagai tren negatif, mengingat ekspor CPO saat Idulfitri cenderung menguat signifikan pada tahun-tahun sebelumnya.

“Harapan bahwa permintaan dapat meningkat signifikan dan harga CPO akan melambung jelang hari raya hanya tinggal harapan saja. Para pelaku pasar harus menghadapi kenyataan pahit, karena permintaan tidak naik signifikan,” ujar Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan, Selasa (26/8).

Selain karena melimpahnya stok minyak nabati dunia, perlambatan ekonomi China dan India selaku negara importir CPO utama juga dituding sebagai penghambat laju ekspor komoditas unggulan RI itu.

Justru, menurut Fadhil, ekspor CPO ke beberapa negara Afrika meningkat hingga 71% menjadi 175.000 ton pada Juli. “Afrika adalah pasar baru yang cukup potensial, meskipun secara kuantitas belum banyak .”

Ekspor CPO ke Amerika Serikat juga naik 41% menjadi 37.300 ton pada bulan yang sama, sedangkan pengapalan ke Uni Eropa melesat 11% menjadi 408.000 ton. Penjualan ke India hanya terdorong 3% menjadi 408.000 ton pada Juli.

Adapun, pengapalan CPO ke China anjlok drastis 27% menjadi hanya 138.000 ton pada bulan ketujuh tahun ini. Padahal, Negeri Panda adalah negara tumpuan utama untuk ekspor CPO Nusantara.

“Penurunan ekspor ke Tiongkok ini selain disebabkan pertumbuhan ekonomi yang melambat, juga karena kesulitan yang sama yang dihadapi oleh para pengusaha pada bulan lalu, yaitu mencari pinjaman bank,” papar Fadhil.

Penurunan ekspor CPO juga terjadi ke Bangladesh, di mana pengiriman pada Juli terjerembab 55%. Sementara itu, penjualan ke Pakistan pada bulan yang sama juga tergelincir 14% dari bulan sebelumnya.

TEKANAN HARGA

Tekanan juga dirasakan dari sisi nilai, di mana rerata harga CPO di Rotterdam pada Juli hanya berkisar US$817-US$872 per metrik ton. Adapun harga rata-rata CPO bulan tersebut bertengger pada level US$843/metrik ton, turun 1,5% dari Juni.

Pada dua pekan pertama Agustus, harga CPO hanya mampu bertengger pada kisaran US$755-US$810 per metrik ton. Prediksi Gapki, imbuh Fadhil, harga CPO hingga akhir bulan ini hanya akan bergerak pada level US$715-US$750 per metrik ton.

“Terus tergerusnya harga CPO di pasar global dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi China dan India yang melambat, stok CPO di Indonesia dan Malaysia yang melimpah, dan penurunan harga minyak nabati, serta kebijakan di negara-negara tujuan ekspor.”

Menyadari kian lembamnya kinerja ekspor CPO, yang mendominasi andil 13,79% dari total ekspor RI, pemerintah mencoba berbagai cara untuk tetap mempertahankan performa ekspor nonmigas. Salah satunya adalah dengan diversifikasi produk.

Pada saat bersamaan, Kementerian Perdagangan juga berupaya melobi beberapa negara untuk dijadikan simpul perdagangan baru guna menembus pasar Eropa dan Asia Tengah. Di antara negara tersebut adalah Turki.

“CPO bisa tujuh kali lipat lebih murah dibanding jenis-jenis komoditas lain, sehingga dapat menjadi tren baru bagi perkembangan pasar di Turki,” ujar Mendag Muammad Lutfi.

Pada Agustus 2014, harga patokan ekspor CPO yang ditetapkan Kemendag adalah US$794 dan bea keluar 10,5% dengan referensi harga rata-rata tertimbang senilai US$865,5. Dengan mempertimbangkan tren penurnan harga, Gapki memprediksi BK CPO September akan turun menjadi 9%.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s