Disiapkan, Insentif untuk Integrasi Usaha Sawit dengan Sapi

Minggu, 31 Agustus 2014

Bisnis.com, JAKARTA–Badan Koordinasi Penanaman Modal tengah menyiapkan skema pemberian insentif terhadap pengusaha perkebunan yang mengintegrasikan kelapa sawit dan peternakan sapi.

Kepala BKPM Mahendra Siregar mengemukakan, prospek integrasi sawit dan sapi (ISS) sangat cerah, namun belum direspon dengan baik oleh kalangan pengusaha karena adanya kendala seperti pengenaan bea masuk (BM) impor indukan sapi.

“Kalau di atas kertas ya sangat menguntungkan. Tapi kami lihat dulu, mau kasih insentif dari aspek apanya ini,” katanya, Sabtu (30/8/2014).

Mahendra mengungkapkan, sebagian besar ISS memang masih ujicoba dan belum matang sebagai model bisnis yang lebih komersil, sementara pengusaha kelapa sawit yang lain masih menunggu hasilnya.

Untuk itu, paparnya, pengusaha yang telah menggunakan skema ini sebaiknya juga mengkaji dengan cermat efek ISS, baik dari aspek peternakan sapi maupun perkebunan sawitnya.

“Potensinya saling menguntungkan entah itu pembibitan dan penggemukan sapi atau peningkatan produktivitas kelapa sawit. Tapi harus diuji dulu di lapangan. Juga perlu dimatangkan,” lanjutnya.

Dia menjabarkan, dari segi kebijakan yang ada, bantuan terhadap kemampuan teknis telah dilakukan oleh kementerian terkait. Namun untuk permodalan, pihaknya mengaku belum dapat menyampaikan karena pelaku juga belum tahu apa yang dibutuhkan.

Dia berharap, sapi indukan dapat memeroleh bea masuk yang kompetitif dan bisa berlaku secara umum.

Dalam waktu dekat, ujarnya, jika tren ISS terjaga, mungkin dalam satu-dua tahun lagi sudah masuk ke tahap komersil, meskipun tidak langsung secara besar-besaran.

“Hitung-hitungan sudah kelihatan, bobot untuk untuk penggemukan sudah sangat efisien, jadi ya tinggal lihat saja,” tambah Mahendra.

Mahendra menambahkan skema ISS misalnya di kawasan Kalimantan, juga bisa diterapkan sebagai senjata untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, apalagi jika diiringi dengan pembangunan rumah potong hewan (RPH) modern.

“Tahun depan sudah dialokasikan untuk pembangunan RPH. Jadi yang keluar dari Kalimantan sudah frozen. Yang kami usulkan sekitar 50-100 ekor per hari. Ini untuk menghadapi MEA 2015, jadi nanti dari sini bisa suplai ke Malaysia,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s