Acuan Investasi Jangan Hanya Lihat Inflasi

Kamis, 11 September 2014

KALTIM POST. SAMARINDA Inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) yang relatif rendah tahun ini diproyeksi tidak akan menurunkan animo investasi yang masuk. Menurunnya perbandingan permintaan atas penawaran dibanding 2013 lalu diyakini bukan disebabkan pelemahan daya beli masyarakat.
Meski tren inflasi berlanjut hingga Agustus lalu, inflasi Kaltim secara akumulasi masih berada pada posisi 3,4 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding 2013 lalu, yang selama setahun kenaikan harga hingga 9,65 persen.
Sekadar referensi, berdasarkan hukum perdagangan, pergerakan indeks harga konsumen (IHK) merupakan buntut dari kelangkaan, yang salah satu pemicunya adalah tingginya permintaan. Sementara pada saat bersamaan, penawaran justru terbatas.
Namun, pada kasus rendahnya inflasi tahun ini, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Sumarno punya pendapat lain. Dia menilai, daya beli masyarakat saat ini masih sangat terjaga. Pergerakan inflasi yang cenderung melambat dibanding tahun lalu, kata dia, lebih disebabkan suplai barang yang baik dibanding tahun lalu.
“Inflasi itu kan menandakan bahwa masih ada kenaikan. Tapi, karena tahun ini inflasinya lebih rendah, itu justru menunjukkan bahwa antara supply dan demand mendekati seimbang,” ucapnya.
Dengan tegas Alex menyebut, hal ini juga tak boleh menjadi acuan tunggal bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di Kaltim, terutama untuk produksi barang-barang konsumsi. Dia bahkan menilai, kondisi perekonomian cenderung lebih kondusif menyusul telah lewatnya jadwal pemilihan presiden.
“Untuk domestik, konsumsi masyarakat di Kaltim sebenarnya masih tinggi. Jadi, salah sekali jika beranggapan bahwa inflasi rendah itu konsumsi menurun. Bisa jadi, penawarannya yang sedang naik,” ulasnya.
Untuk menimbang penanaman modal, lanjut Alex, investor harusnya lebih cenderung menjadikan harga global sebagai acuan utama. Seperti diwartakan, saat ini dua komoditas yang juga termasuk unggulan di Kaltim, yakni minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara, tengah anjlok harganya.
Kabar terbaru menyebutkan, CPO saat ini turun ke level USD 671 per ton secara year to date atau merosot 19 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu. Harga tersebut merupakan yang terendah sejak lima tahun terakhir.
Begitu pula dengan batu bara. Sempat menyentuh USD 127,05 pada Februari 2011, Agustus lalu, harga batu bara acuan (HBA) kembali ditetapkan turun menjadi menjadi USD 70,29 per ton. Itu merupakan rekor harga terendah sejak November 2011 atau sekitar empat tahun terakhir.
“Jika pada dua komoditas tersebut (kelapa sawit dan batu bara), jelas pemicunya adalah penurunan penawaran, terutama dari pasar global. Jadi, kalaupun ada pertimbangan menahan investasi mestinya ya pada dua sektor ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s