Pantau Hutan, BP REDD+ Pakai Satelit Lapan

Rabu, 10 September 2014

TEMPO.CO, Jakarta – Pengawasan lahan hutan dan gambut dari ancaman deforestasi, degradasi, dan kebakaran terus meningkat. Badan Pengelola Reduksi Emisi Gas Rumah dari Deforestasi, Degradasi Hutan, dan Lahan Gambut (BP REDD+) bakal memanfaatkan satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) untuk membantu mengawasi hutan.

Kepala BP REDD+ Heru Prasetyo mengatakan kerja sama dengan Lapan bisa menambah data yang digunakan untuk memetakan kondisi hutan dan lahan gambut di Indonesia. “Pemakaian data dari satelit Lapan menjadi pandangan tambahan tentang informasi yang sebelumnya kami dapatkan,” kata Heru dalam acara penandatanganan naskah kerja sama dengan Lapan di kantor BP REDD+, Jakarta, Rabu, 10 September 2014.

Selama ini BP REDD+ menggunakan material, data, dan informasi tentang kondisi hutan–termasuk lokasi titik panas dan kasus kebakaran–dari beberapa lembaga asing, seperti Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan World Resources Institute. Citra dari satelit NASA juga menjadi bahan penyusunan laporan BP REDD+. (Baca juga: Proyek Pengurangan Emisi Rentan Korupsi)

“Informasi dari Lapan tidak kalah bagusnya dengan data dari lembaga lain, namun ada juga teknologi berbeda dalam penginderaan jauh,” kata Heru. Kerja sama dengan Lapan membuat data yang diambil menjadi lebih baik lagi.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menyatakan pihaknya siap menyediakan data dari satelit yang dibutuhkan BP REDD+ dalam pengawasan lahan hutan dan gambut. Lapan juga siap membantu penyediaan data dengan memakai wahana terbang nirawak atau drone untuk mengatasi keterbatasan penginderaan vertikal dari satelit.

“Banyak yang menilai penginderaan jauh dengan satelit efektif, namun sebenarnya ada kendala awan yang menghambat pantauan satelit. Karena itu, nanti diusahakan untuk memakai drone,” kata Thomas.

Sebuah laporan dalam jurnal Nature Climate Change menyebutkan laju deforestasi hutan Indonesia diperkirakan mencapai 840 ribu hektare per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi daripada deforestasi yang terjadi di Brasil, yakni sebesar 460 ribu hektare per tahun.

Sementara itu, menurut versi Kementerian Kehutanan, deforestasi hutan Indonesia sekitar 450 ribu hektare per tahun. “Masalah itu harus segera diatasi dan pemantauan hutan yang diimbangi dengan penegakan hukum Ini menjadi cara untuk menekan laju deforestasi,” kata Heru.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s