“Jika tak ada hutan, Tongkonan akan punah”

MONGABAY. Layuk Sarungallo (68) duduk menyandarkan punggung pada kursi plastik.  Dia menyeruput kopi. “Jika Tongkonan tak memiliki lili (wilayah) untuk hutan, rante (lapangan upacara), tempat pemakaman, dan sawah, maka bagaimana menentukan nasib keluarga kelak,” katanya.

Tongkonan adalah rumah adat  masyarakat di Toraja, dibangun atas kesepakatan bersama rumpun keluarga. Bentuk atap menyerupai tanduk kerbau, ada pula yang mengatakan mirip perahu. Setiap Tongkonan memiliki lumbung (alang) untuk menyimpan padi dan hasil bumi lain.

Alang memiliki enam tiang berjejer dua, terbuat dari pohon banga–mirip palem namun ukuran lebih besar, berkulit keras namun isi seperti serabut. Alang ini sebagai tempat menerima tamu.

Tongkonan dan alang merupakan bagian dari identitas masyarakat Toraja. Ia berfungsi suatu lembaga atau institusi yang bisa mempererat hubungan kekerabatan. Di Tongkonan-lah segala macam perjumpaan dan musyawarah keluarga dilaksanakan. Sekaligus menjadi tempat ritual, baik syukuran hingga kedukaan.

Layuk Sarungallo adalah tokoh adat di wilayah Ke’te Kessu, Kampung Bonoran, Kelurahan Panta’nakan Lolo, Kecamatan Kesu, Toraja Utara. Di area itu, terdapat enam tongkonan keluarga, berjejer rapi. Di jalan masuk Tongkonan ada sebuah loket penarikan retribusi untuk pengunjung. Disanalah Layuk setiap hari beraktivitas sekaligus sebagai kantor.

Ketika saya menjumpai pada Sabtu pagi 30 Agustus 2014, dia sedang bersantai. Meja bersisihan dengan jendela menjadikan pandangan begitu lapang, melihat loket penjagaan dan memperhatikan setiap tamu yang melintas.

Setiap Tongkonan di wilayah Ke’te Kessu menggunakan atap bambu. Kokoh dan anggun. Atap bambu disusun dan berpasangan hingga sirkulasi udara terjaga baik. Udara melalui celah-celah atap tersimpan. Saat malam mengeluarkan udara hangat. Kala siang terasa dingin.

Rumah-rumah adat yang menggunakan atas dan beberapa bagian dari bambu. Bambu menjadi bahan penting bagi masyarakat adat di sini. Foto: Eko Rusdianto

Sedang di beberapa tempat, penggunaan atap seng ataupun asbes makin banyak. Namun tidak bagi masyarakat di sini. “Kami dalam rumpun keluarga menggunakan bambu, karena kearifan lebih terjaga,” katanya. “Kalau saya bertahan pakai bambu maka generasi selanjutnya berusaha menanam. Tidak serta merta membeli bahan jadi.”

Untuk satu bangunan Tongkonan ukuran 4×10 meter, atap bambu mencapai 1.000 batang. Lalu dipotong-potong sesuai kebutuhan menjadi 6.000 keping. Untuk keperluan upacara penguburan, sedikitnya 8.000 batang.

Layuk mencoba merinci penggunaan bambu sesuai jenis. Tahun 2012, ketika upacara penguburan ibunya, perlu sekitar 600 batang bambu pattung (betung). Parrin (jenis bambu lebih kecil dari betung) 3.000 batang dan tallang-jenis bambu lebih kecil dari parrin biasa untuk pembuatan lemang dan atap rumah–mencapai 4.000 batang.

Darimana bahan baku bambu sebanyak itu? Layuk tersenyum dan menunjuk sekeliling Tongkonan. Bukit kapur menjulang, hutan hijau menyediakan rumpun-rumpun bambu, kayu dan kebutuhan lain keluarga dengan luas mencapai 50 hektar. “Dari sanalah. Inilah kenapa mempertahankan atap dan penggunaan bambu dalam berbagai ritual kami pertahankan,” katanya.

Hutan-hutan adat Tongkonan dipelihara baik. Jauh sebelum pemerintah menggalakkan sistem tebang pilih dalam kawasan hutan, masyarakat Toraja sudah melaksanakan. Memilih bambu ataupun kayu untuk merenovasi rumah harus dengan hati-hati. Tak seorangpun dibiarkan leluasa memasuki kawasan hutan, apalagi menebang tanaman tanpa seizin ketua adat. “Kalau menebang, sekalipun dia keluarga, tanpa izin, dianggap pencurian,” kata Tato Dena.

Tato Dena adalah seorang To Minani (pendeta yang beragama leluhur Aluk Todolo). Tato dipilih turun temurun dan menjadi pemimpin ritual. Menurut dia, kombongna (hutan adat) yang dimiliki Tongkonan adalah kehidupan. “Jika tak ada hutan, Tongkonan akan punah,” katanya. “Nanti tidak ada tempat rumpun keluarga bertemu, kecuali jika Toraja sudah menjadi kota besar, yang itu orang-orangnya sudah masing-masing egois.”

Kees Buijs, antropolog Belanda dalam buku Kuasa Berkat dari Belantara dan Langit, menjelaskan, peran penting hutan untuk masyarakat Toraja di masa lalu. Menurut dia, hutan lebat menjadi simbol dan tempat bermukim arwah-arwah dari dewa yang bertugas menjaga kesuburuan dan kehidupan bumi. Pemimpin ritual adalah toburake (imam perempuan) yang digantikan toburake tambolang (seorang wadam/waria). Jadi hutan adalah simbol identik dengan perempuan.

 Tongkonan adalah rumah tradisional masyarakat di Toraja. Foto: Eko Rusdianto

Setiap tahun, menurut perkiraan Layuk, hutan adat yang hilang karena penduduk bertambah, perluasan kebun dan sawah, sekitar dua persen. Sulit dihindari, manusia makin banyak dan lahan tak pernah bertambah.

Toraja seperti romansa alam dan manusia, tak dapat dipisahkan. Hutan-hutan terjaga akan menjaga pasokan air melalui celah-celah gunung batu, lalu dialirkan ke sawah, dan rumah-rumah penduduk untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambah menjaga kontur tanah dengan kemiringan hingga 45 derajat, agar tetap stabil.

Pertengahan 1990-an dan 2010, sebagian warga mendadak heran. Dataran tinggi Toraja dilanda banjir, tebing-tebing tanah di tepi jalan longsor. Kota Rantepao pun terendam hingga kedalaman 30 sentimeter. “Saya kira itu dampak dari hutan hilang,” kata Marla dari Tongkonan Buntu Pune.

Buntu Pune dan Ke’te Kessu adalah warisan benda cagar budaya yang ditetapkan Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Sulawesi Selatan. Di Buntu Pune terdapat dua Tongkonan dan enam alang. Tongkonan itu peninggalan Pong Maramba-pahlawan Toraja yang disegani.

Kompleks Tongkonan Buntu Pune dikelilingi hutan rindang dan sejuk. Di salah satu sudut terdapat bukit batu kokoh dipenuhi beberapa tanaman, dari bambu, kayu uru, banga, nira, nangka, dan masih banyak yang lain.

Marla dan keluarga penerus dari Pong Maramba membangun rumah tinggal di belakang Tongkonan utama. Dia menarik selang air melalui celah batu untuk kebutuhan sehari-hari dan menampung di bak. Air sangat dingin dan segar. “Karena hutan itu persediaan air kami, saya berusaha setiap pekan, dalam waktu senggang menanam tanaman apapun,” katanya.

Bagaimana dengan kehadiran masyarakat yang membangun rumah di sekitar hutan? Layuk punya solusi. Sebelum bangunan rumah berdiri, dia merinci rumpun bambu atau pohon yang hilang. Kemudian pemilik bangunan baru mengganti tanaman dalam jumlah yang sama. Ditanam di halaman depan rumah, di belakang, ataupun di samping. “Jadi setidaknya lahan berkurang, tapi tanaman tak berkurang.”

Tak hanya itu, Layuk pun mengenalkan kecintaan pada pohon dan hutan terhadap anak-anak sejak dini. Setiap minggu, setelah anak-anak pulang beribadah, dia menyiapkan beberapa bibit tanaman, dan memasuki hutan untuk menanam bersama. “Maka hutan menjadi milik bersama, bukan milik orang per orang, apa lagi ketua adat,” ujar dia.

Selain bambu untuk atap dan pelaksanaan ritual, banga menjadi sangat penting. Banga untuk tiang lumbung. Tak boleh menggunakan kayu lain. Pohon ini memiliki kulit keras dan tak berpori. Ini untuk mencegah tikus dan binatang lain merayap memasuki lumbung sebagai tempat persediaan dan penyimpanan makanan.

Bambu di hutan adat. Untuk mengambil bambu ini mereka memiliki tata cara sendiri. Bagi yang mengambil bambu tanpa izin meskipun keluarga sendiri dianggap sebagai pencurian. Foto: Eko Rusdianto

Lahan warga adat sudah terbagi-bagi, ada buat pemukiman, hutan yang tak boleh dimasuki sembarangan dan lokasi bertani. Foto: Eko Rusdianto

Bambu dari hutan adat, yang diambil buat berbagai keperluan. Namun hutan terus terjaga karena mereka sudah mengatur tata cara pemanfaatan di dalam hutan adat. Foto: Eko Rusdianto

Undakan-undakan lahan pertanian warga dengan rumah adat di bagian atas dan di kelilingi hutan. Foto: Eko Rusdianto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s