BNPB: Beri Sanksi Tegas Pembakar Lahan dan Hutan

Sunday, 21 September 2014

Jakarta, GATRAnews – Pembakaran lahan dan hutan seolah menjadi “budaya” bagi sejumlah masyarakat dan perusahaan di Indonesia jika musim kemaru tiba, sehingga penegakan hukum harus dilakukan demi memberikan efek jera.

“Penegakan hukum harus dikedepankan karena lebih efektif untuk pencegahan,” tandas Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (21/9).

Untuk mencegah pembakaran lahan dan hutan, BNPB akan terus memperkuat pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi dan kesehatan masyarakat. Sedangkan upaya penanggulangan bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih terus dilakukan melalui operasi darat, operasi udara, dan penegakan hukum.

Untuk memadamkan api, BNPB mengerahkan 9 helikopter pengebom air, yakni saat ini berada di Sumatera Selatan sebanyak 4 unit, Riau (1 unit), Kalimantan Barat (1 unit), dan Kalimantan Tengah (3 unit).

“Hujan buatan dengan pesawat Hercules C-130 TNI AU telah dioperasikan dengan menaburkan NaCl 4 ton di Sumatera Selatan, siang tadi, pukul 14.00 WIB. Hujan turun di Kota Palembang dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, meski hujan buatan menggusur 2 hari terakhir, namun tidak mampu memadamkan seluru titik api di Pulau Kalimantan dan Sumatera.

Namum demikian, hujan telah menurunkan jumlah hotspot di wilayah Sumatera, sehingga jarak pandang terus meningkat. Berdasarkan pantauan satelit Modis, yakni Terra dan Aqua, hari ini, hotspot tersebar di Sumatera Selatan (Sumsel) sebanyak 35 titik, Lampung (7 titik), Kalimantan Barat (86 titik), Kalimantan Tengah (451 titk), Kalimantan Selatan (75 titik), dan Kalimantan Timur (132 titik), serta tidak ada hotspot atau nihil di Riau dan Jambi.

“Sedangkan pantauan satelit NOAA-18, hari ini hotspot berada di Sumsel (31 titik), Kalimantan Barat (45 titik), Kalimantan Tengah (25 titik), dan Kalimantan Timur (3 titik),” kata Sutopo.

Adapun di Sumsel, hotspot tersebar di beberapa kabupaten, yakni Ogan Komering Ilir (34 titik) dan Lubuk Linggau (1 titik). Kebakaran berada di perkebunan dan lahan dekat permukiman yang mengindikasikan, bahwa lahan tersebut sengaja dibakar.

“Kombinasi antara illegal logging dan pembakaran hutan dan lahan merupakan modus yang banyak dilakukan di Sumsel,” ungkap Sutopo.

Sedangkan di Pulau Kalimantan, sebaran hotspon terdapat di beberapa provinsi, yakni Kalimantan Tengah sebanyak 451 titik yang terdiri dari Kotawaringan Barat (3 titik), Kotawaringin Timur (47 titik).

Kemudian di Kapuas (96 titik), Barito selatan (48 titik), Barito Utara (13 titik), Sukamara (6 titik), Seruyan (10 titik), Katingan (110 titik), Pulangpisau (59 titik), Gunungmas (8 titik), Barito Timur (15 titik), Murung Raya (4 titik), dan Palangkaraya (32 titik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s