Lahan Gambut Terbebani Berbagai Izin Usaha

Pontianak Post . Direktur Perkumpulan Sampan, Fajri Nailus Subchi menyatakan, lahan gambut di Kalimantan Barat saat ini sudah sangat terancam. Pasalnya, hampir separuh luas kawasan gambut telah terbebani dengan berbagai izin usaha, mulai dari pertambangan hingga perkebunan.

BERDASARKAN analisis spasial dengan melakukan overlay peta perizinan dengan peta gambut diketahui bahwa 45,87 persen luas lahan gambut di Kalbar atau 726 ribu hektar telah dibebani izin investasi. Rinciannya, 386 ribu hektar telah dibebani izin untuk pertambangan, 136 ribu untuk delapan perusahan hak pengusahaan hutan (HPH), 635 ribu hektar untuk 240 perusahaan sawit dan 60 hektar untuk hutan tanaman industri.
Ekosistem lahan gambut di Kalbar merupakan hutan lahan basah yang hampir selalu tergenang sepanjang tahun. Ekosistem gambut tersebar di berbagai wilayah di Kalbar. Lahan gambut memiliki peran penting bagi masyarakat yang hidup di dalam atau di sekitarkawasan tersebut. Analisis spasial yang dilakukan lembaga Sampan menunjukkan, terdapat 344 desa atau sebesar 19 persen dari total 1804 desa di Kalbar berada di dalam atau sekitar kawasan gambut. Karena itu, keberadaan kawasan gambut tidak hanya memiliki fungsi ekologi yang besar, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Menurut Fajri, masalah pengelolaan gambut mulai mengemuka sejak maraknya industri berbasi hutan dan lahan. “Kondisi ini diperparah ketika perusahaan dalam operasi usahanya tidak memiliki manajemen tata air gambut sehingga lahan gambut mengalami kerusakan,” katanya.
Terganggunya tata air ini berdampak pada berbagai bencana ekologis, seperti kekeringan, banjir, serta areal budidaya menjadi tidak produktif. Di musim kemarau, tata air dengan kanal besar yang memotong kontur bumi menjadikan gambut yang tergantung pada genangan air menjadi kering sehingga sangat mudah terbakar.
Aktivis Walhi Kalbar Hendrikus Adam menjelaskan, lahan gambut memiliki sifat yang mudah terbakar. Sementara itu, jika sudah terjadi kebakaran sangat sulit untuk dipadamkan. Api biasanya merambat di bawah permukaan tanah. Jika tidak dipadamkan, api yang membakar lahan gambut ini bisa menyebar ke sejumlah tempat. “Dari atas memang tidak kelihatan apinya, padahal di bawahnya terbakar. Biasanya muncul banyak asap. Inilah yang  menyumbang terjadinya kabut asap,” kata Hendrikus Adam.
Untuk memadamkan lahan gambut yang sudah terbakar, tidak cukup dengan menyiramnya di atas permukaan tanah. Karena di bawah tanah masih ada bara api yang membakar. Karena itu, air harus disemprotkan hingga masuk ke dalam tanah. “Biasanya kebakaran lahan gambut itu cukup menyebar. Butuh tenaga yang relatif banyak untuk bisa memadamkannya. Jika satu titik kebakaran tidak benar-benar padam, bara apinya bisa kembali membesar hingga kemudian merambat lagi,” katanya.
Adam berharap segera datang hujan dengan intensitas yang lebat sehingga bisa memadamkan lokasi kebakaran. Hujan yang lebat akan membuat titik-titik api menghilang sehingga akan mengurangi kabut asap. Kabut asap yang begitu pekat bisa menjadi bencana, sebab akan menurunkan kualitas udara. Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan pernafasan. Tidak hanya itu, kebakaran lahan gambut mengirimkan emisi C02 yang sangat besar yang berpotensi menyebabkan terjadinya pemanasan global.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kalbar Darmawan. Menurut Darmawan, menyiram dengan air pada lahan gambut yang terbakar itu hanya memadamkan api pada permukaan. Di bawah lahan, masih ada bara api yang dapat memicu kebakaran lagi di permukaan. “Jadi, di bawahnya enggak padam,” katanya.Meski begitu, Darmawan memastikan akan menindak tegas jika ada oknum yang sengaja membakar lahan, misalnya oknum perkebunan sawit. Jika terbukti, perkebunan tersebut akan dicatat dalam daftar hitam atau blacklist. Salah satu konsekuensinya adalah perkebunan itu tidak bisa menjual sawitnya secara legal kepada pihak mana pun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s