Memalukan, Ekspor Mebel Vietnam Capai Rp 62 Trilyun, RI Cuma Rp 21 T‏rilyun

Tuesday, 23 September 2014

Jakarta, GATRAnews Asosiasi Mebel dan Kerajinan Republik Indonesia (AMKRI) mengungkapkan, ekspor mebel Indonesia saat ini masih jauh tertinggal dari Vietnam. Tahun 2013 lalu, ekspor mebel Vietnam mencapai USD 5,2 miliar alias sekitar Rp 62 triliun, sedangkan Indonesia USD 1,8 miliar alias cuma sepertiganya. Padahal, Indonesia memiliki jauh lebih banyak kayu untuk bahan baku furniture dari hutan tanaman industry (HTI).

 

“Malu kita, Vietnam itu tahun ekspor mebelnya 2013 USD 5,2 miliar. Tahun 2012 USD 4,1 miliar, dia pertumbuhannya sampai 22 persen setahun,” ujar Abdul Sobur, Sekjen AMKRI, kepada GATRAnews, akhir pekan lalu. Hal ini terjadi karena Vietnam lebih gencar dan agresif dalam melakukan pemasaran.

 

Selain itu, banyak industri mebel dari Taiwan yang melakukan relokasi ke Vietnam. Indonesia belum menjadi tujuan utama relokasi industri mebel dari luar negeri. “Kalau menurut saya, dia punya akses pasar lebih besar, terutama ke Amerika Serikat. Banyak juga relokasi industri dari Taiwan ke Vietnam, bukan ke Indonesia, sehingga itu mendorong pertumbuhan di sana,” tutur Sobur.

 

Saat ini, investasi asing yang masuk ke sektor industri mebel di Indonesia masih amat minim. Menurut perhitungannya, hanya 20 persen dari total ekspor mebel Indonesia sebesar USD 1,8 miliar yang berasal dari investasi asing. Karena itu, pemerintah perlu menarik banyak investor asing agar menanam modalnya di bidang industri mebel. “Pemerintah harus membuka ruang yang luas agar investasi masuk. Dengan fasilitas-fasilitas yang diberikan, insentif-insentif, ekspor mebel akan meningkat,” ujarnya.

 

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa produk mebel Indonesia dan Vietnam memiliki segmen pasar yang berbeda. Produk mebel Indonesia lebih menonjolkan kualitas, kehalusan, nilai etnisitas, dan kebudayaan.

 

Adapun, mebel asal Vietnam umumnya diproduksi secara massal, berkualitas rendah, dan tidak artistik. Konsumen mebel Indonesia adalah kelas menengah ke atas, sedangkan mebel Vietnam untuk kalangan kelas menengah ke bawah. “Kalau kita lihat, Vietnam produksinya massal, kita tidak. Kualitasnya relatif rendah, bentuknya sama semua, mereka relatif menggunakan itu,” katanya.

 

Selain itu, produk mebel asal Indonesia lebih unggul dari sisi kelestarian lingkungan dengan adanya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). “Yang masih dipertanyakan juga dari mana mereka (Vietnam) dapat kayunya? HTI mereka kalah jauh dibanding kita. Jadi sebenarnya patut dipertanyakan sustainability-nya,” tandasnya.

 

Menurutnya, meski angka ekspor mebel Indonesia masih kalah dibanding Vietnam, Indonesia tak perlu ikut-ikut memproduksi massal mebel berkualitas rendah untuk kelas menengah ke bawah karena ciri khas dari mebel Indonesia adalah design yang unik. Indonesia akan kehilangan keunggulannya bila masuk ke pasar mebel kelas menengah ke bawah. “Kalau begitu nanti kita kehilangan advantage. Kehebatan kita di high class,” tukas dia.

 

Lagipula, Bayu melanjutkan, ke depan produk mebel Indonesia bakal lebih laris daripada mebel Vietnam karena tumbuhnya kelas menengah di negara-negara berkembang yang lebih memilih barang-barang bermerek dengan kualitas bagus.

 

Isu lingkungan yang semakin gencar disuarakan di seluruh dunia juga bakal membuat industri mebel Vietnam terpukul. “Dengan tumbuhnya kelas menengah, makin banyak orang kaya, produk kita akan lebih deicari. Ditambah lagi isu lingkungan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s