Pasar CPO Dikendalikan Negara Tetangga

Kamis, 25 September 2014

Kaltim Post. SAMARINDA Merosotnya permintaan crude palm oil (CPO) global mengakibatkan harga tandan buah segar (TBS) sawit dari petani ikut tertekan dalam lima bulan terakhir.
Seperti diinformasikan, September ini, Dinas Perkebunan Kaltim menetapkan harga TBS usia 10-25 tahun pada posisi Rp 1.694,25 per kilogram (kg) atau kembali turun dibanding Agustus lalu yang masih Rp 1.765,04 per kg. Penurunan ini, merupakan yang kelima kalinya secara beruntun atau sejak Mei lalu. Kenaikan harga terakhir terjadi April lalu, yang masih Rp 1.882,49 per kilogram.

“Itu kan harga fluktuatif kalau ikut sama luar negeri. Tapi kalau itu cuma permainan, segera dihentikan,” ucap Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kaltim kemarin (24/9).

Dia mengatakan, jangan sampai petani sawit di Kaltim menjadi korban lantas menggantinya dengan tanaman lain. Kebijakan dari pemerintah sangat diperlukan untuk membuat petani sejahtera. “Petani sawit sekarang sedang bergairah,” ujarnya.
Henny menuturkan eksistensi pertanian kelompok ini sangat tergantung luas lahan atau hutan. Pertanian Kaltim disebut masih dalam posisi transisi dari berladang berpindah ke pertanian menetap. “Artinya, diperlukan pembinaan, penyuluhan, penelitian, dan perlindungan lahan untuk masyarakat petani dari pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Investasi Kadin Kaltim Alexander Sumarno memaparkan, Kaltim memang berpotensi besar untuk mengembangkan lahan sawit maupun pabriknya. Untuk wilayah Kaltim dan Kaltara saja sudah 1 juta hektare. Namun demikian, dalam sembilan bulan terakhir harga sawit terus mengalami penurunan. “Biasanya ada siklus dan harga itu menyesuaikan permintaan atau demand,” katanya. “Asal tahu saja, harga sawit dikendalikan sama Malaysia,” tuturnya.

Dia menyebut, beberapa perusahaan memang berbendera Indonesia, namun sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Negeri Jiran. Dengan kata lain, pengusaha dari Malaysia memiliki perusahaan sawit di Kaltim. “Itu sudah rahasia umum,” sebutnya.
Walaupun harga turun, kata Alexander, potensi untuk mengembangkan sawit tak pernah habis. Artinya, CPO banyak memiliki produk turunan yang bisa diolah menjadi minyak wangi, mentega, sabun, dan lain-lain.  “Investor pasti tetap mau ke Kaltim,” tutur dia.
Nah, yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana mencari alternatif lain ketika CPO sedang tak bergairah?
Menurut Alexander, kebanyakan ide pemerintah selalu baik. Dengan kata lain, Kadin Kaltim selalu mendukung produk pemerintah. “Problemnya adalah apakah bisnis tersebut sudah dipetakan dengan baik,” tandasnya.
Dia mencontohkan, 10 tahun lalu Kaltim pernah memiliki program biodiesel dengan menggunakan pohon jarak. Namun hingga sekarang inovasi tersebut tak tersentuh. “5.000 hektare pohon jarak yang ada di Kubar berhasil, tapi tak ada upaya lanjut dari pemerintah,” sebut dia.
Dia menambahkan, sebaiknya pemerintah mempunyai skema tambahan apabila regulasi yang sekarang tak berhasil. Maksudnya, bila industri dan pabrik skala besar belum mampu menopang perekonomian dari masyarakat, tentu diperlukan ide lain. Karenanya, pembuatan industri skala kecil diperlukan, misalnya industri berjalan yang mampu menempuh daerah yang memiliki akses yang baik. “Truk penghasil CPO. Namun izin operasionalnya tak keluar,” sebutnya.
Sebagai informasi, harga CPO sempat naik pada pertengahan sampai akhir Agustus ke kisaran USD 850 – 870 per metrik ton. Namun, harga kembali akhir Agustus sampai pada pertengahan September di kisaran USD 815 – 840 per metrik ton. Permintaan CPO turun akibat ekonomi global belum pulih.

Permintaan dari Tiongkok dan India pun menurun. Pada Juni 2013, volume ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia turun 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juli 2013, ekspor CPO dan turunannya mencapai 1,59 juta ton atau turun 1,64 persen dari Juni. Pada Agustus volume ekspor tergerus kembali sebesar 6,9 persen dibandingkan dengan Juli atau merosot menjadi 1,48 juta ton.

Meskipun demikian, secara tahunan, pada periode Januari hingga Agustus 2013, ekspor CPO dan turunannya masih naik 18,6 persen dari 11,54 juta ton di 2012 menjadi 13,69 juta ton di 2013.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan pada November ini pasar CPO global akan meningkat. Sebab kondisi cuaca di Indonesia dan Malaysia masih tidak mendukung sehingga panen akan terganggu dan produksi akan berkurang. Penurunan kinerja ekspor Indonesia ini dipengaruhi juga oleh faktor dalam dan luar negeri lainnya.

Faktor dari dalam negeri adalah karena adanya peningkatan penyerapan dalam negeri karena berkembangnya industri hilir. Sementara faktor luar negeri lain karena pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor utama Indonesia seperti Tiongkok dan India yang melambat mengakibatkan daya beli melemah.

Beberapa regulasi negara tujuan ekspor yang menghambat, turunnya nilai mata uang di beberapa negara terhadap dollar Amerika, serta banyaknya pasokan minyak nabati lain seperti kedelai dan rapeseed diimbangi dengan harga yang kompetitif sehingga minyak sawit hanya dijadikan sebagai minyak substitusi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s