Gubernur Klaim Milik Daerah

Jumat, 30 Januari 2015

KALTIM POST. SAMARINDA – Rencana melengkapi Bandara Samarinda Baru (BSB) dengan aerospace park atau kawasan industri terpadu perawatan pesawat tampaknya diseriusi Pemprov Kaltim. Guna memuluskan kebutuhan lahan dua ribu hektare, Gubernur Awang Faroek Ishak telah berkomunikasi dengan PT Lanna Harita Indonesia (LHI), perusahaan tambang batu bara selaku pemilik lahan.
Diketahui, sekarang pembangunan sisi udara paket pekerjaan runway (landasan pacu) sudah mulai dikerjakan. Sejak awal Desember 2014 berdasar hasil lelang, PT Waskita Karya ditetapkan sebagai penggarap runway 2.250 meter bandara yang berlokasi di Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara itu.
Nantinya aerospace park dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan pemeliharaan, perbaikan, dan bongkar pasang atau maintenance, repair, and overhaul (MRO). Dengan adanya MRO, orang nomor satu Kaltim itu berujar bahwa BSB menjadi satu-satunya bandara di Indonesia yang memiliki pelayanan tersebut. Dari komunikasi yang telah dijalin dengan LHI, pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) itu pada dasarnya mendukung.
Namun, terang dia, keputusan final mesti menunggu pimpinan tertinggi perusahaan tersebut. Apalagi, kegiatan usaha LHI merupakan investasi luar negeri. “Saya optimistis lahan itu tidak mengganggu operasional mereka (LHI, Red.). Sudah saya cek, tidak ada lagi tambang di areal itu,” ujar dia.
Makanya dia meyakini LHI akan memberikan lahan tersebut. Lagi pula tanpa diminta, lahan tersebut sudah menjadi milik daerah karena sudah tidak ada lagi kegiatan pertambangan. “Kalau menurut aturan, baru kembali pada 2030. Kami sudah mati semua. Yang ada anak-cucu dibebani lagi,” ujarnya.
Makanya dia memutuskan bila LHI tak juga memberikan, dia mengklaim lahan itu telah menjadi milik daerah. “Karena kami (Kaltim, Red.) butuh untuk pembangunan. Rakyat pasti mendukung,” tandasnya.
Andai kata ada lahan rakyat, maka akan dibebaskan sesuai dengan aturan. “No problem,” tuturnya. Ditanya soal anggaran pembangunan aerospace park, Faroek menjelaskan, akan didanai dengan pola kerja sama pemerintah dan swasta atau private public partnership (PPP).
Dengan begitu, kata dia, tak membebani sepenuhnya keuangan pusat dan daerah. Semisal, Kawasan Ekonomi Khusus di Maloy, Kutai Timur saban hari, klaim dia, terus dibanjiri permintaan investor untuk masuk. Untuk target pembangunan, mantan bupati Kutim ini menyebut, tahap awal akan meminta dibuatkan perencanaan terlebih dulu. “Ada tahapan-tahapannya. Butuh waktu agar perencanaan disusun dengan profesional,” jelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s