PELUANG SAWIT

Minggu, 01 Februari 2015

KALTIM POST. JELANG Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), tingkat harga komoditas di pasar internasional belum menunjukkan perbaikan. Sepanjang 2014, harga crude palm oil (CPO) tersungkur pada level terendah dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut memicu negara pengekspor, termasuk Indonesia, turun tangan mengambil kebijakan.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan, pada kuartal akhir 2014, harga rata-rata CPO di bawah USD 750 per metrik ton (mt). Posisi itu merupakan batas awal pengenaan bea keluar (BK). Selanjutnya, pada periode Oktober hingga Desember 2014, pemerintah menetapkan bea keluar CPO 0 persen.
Tak hanya di Indonesia, Malaysia yang juga merupakan produsen utama CPO mengalami hal serupa. Pemerintah setempat turut menurunkan tarif BK menjadi 0 persen pada kuartal empat 2014. Selama ini, Malaysia menggunakan regulasi pajak ekspor CPO yang dikeluarkan pada 2013, yang menetapkan range 4,5 persen hingga 8,5 persen dengan batas bawah harga CPO 2.250 ringgit per mt.
“Harga CPO sulit untuk terkerek karena harga minyak nabati lain seperti kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari juga mengalami penurunan karena melimpahnya stok. Hal ini diperparah dengan jatuhnya juga harga minyak dunia,” ungkapnya. Merujuk konsolidasi data Gapki, rata-rata CPO tahun lalu hanya mampu bertengger di USD 818,2 per mt.
Harga rata-rata ini turun 2,8 persen dibandingkan dengan harga rata-rata CPO 2013 (year on year/yoy) yakni USD 841,71 per mt. Dengan tingkat harga yang rendah itu, sebaliknya, ekspor masih mencatat peningkatan meski dalam level minim. Total ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia pada 2014 mencapai 21,76 juta ton, atau naik tipis 2,5 persen dibandingkan dengan total ekspor 2013 yaitu sebesar 21,22 juta ton.
Sementara produksi CPO dan turunannya termasuk biodiesel dan oleochemical pada 2014 diprediksi mencapai 31,5 juta ton. Angka produksi ini naik 5 persen dibandingkan total produksi tahun 2013 yang hanya mencapai 30 juta ton. Fadhil meyakini, pada 2015 ini, industri sawit masih memiliki prospek yang cukup cerah dan menjanjikan.
“Ahli mengatakan, tahun ini Indonesia akan jadi kunci penentu harga. Ini terkait dengan keseriusan pemerintah Indonesia yang menjalankan bahan bakar nabati (BBN),” tuturnya. Menurutnya, jika BBN dilaksanakan dengan efektif, serta percepatan peningkatan BBN 20 dilaksanakan, maka secara otomatis penyerapan di dalam negeri akan meningkat.
Di satu sisi, kebijakan BBN itu berdampak pada pasokan ke pasar global akan berkurang. Hal ini secara hukum pasar mampu mengerek harga CPO di pasar global. Apalagi, jika Malaysia melakukan hal yang sama. “Produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan akan meningkat meskipun tidak signifikan. Karena tidak banyak ekspansi lahan yang bisa dilaksanakan sejak moratorium diberlakukan tiga tahun yang lalu,” tuturnya.(gal/agm/jpnn/che/k8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s